Belajar merupakan suatu kegiatan yang akan dilakukan manusia kapanpun juga. Sejak di dalam buaian, hingga liang lahat. Belajar tidak harus dibatasi oleh ruang dan waktu. Materi yang dipelajari pun dapat beraneka ragam, mulai dari pengetahuan agama, pengetahuan alam, pengetahuan umum, pengetahuan bahasa, pengetahuan sosial, matematika, dan lain sebagainya. Manusia juga dapat belajar dari mana saja dan dari siapa saja. Di kampus, di sekolah, dari seminar yang dilalui, atau dari kebudayaan yang ada di sekitar kita. Seperti pada kelas Etnomatematika yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A., kami belajar melalui kebudayaan yang ada di Indonesia.
Indonesia memiliki banyak kebudayaan, termasuk di daerah Yogyakarta. Kebudayaan yang ada tersebut, dapat dijadikan suatu sumber belajar Matematika, yang nanti akan disebut sebagai Etnomatematika. Etnomatematika sendiri sangat berbeda dengan pembelajaran kontekstual. Ini dikarenakan etno bukanlah pembelajaran berbasis kontekstual, mereka tidaklah sama. Sehingga pembelajaran etno ialah pembelajaran kontekstual, sedangkan pembelajaran kontekstual bukanlah etno.
Pembelajaran yang dilakukan tidak hanya di kelas, tetapi juga di luar kelas. Pak Marsigit memiliki sebuah blog. Mahasiswa dapat belajar melalui blog tersebut, sehingga belajar tidak akan terbatas hanya di kelas dan jam kuliah saja. Jika ingin membuka blog beliau, pembaca hanya perlu mengklik di sini, dan pembaca dapat berkunjung ke alamat blog beliau. Melalui blog tersebut, Mahasiswa dapat memperoleh referensi terkait pembelajaran Matematika. Tidak hanya itu, kita juga dipersilahkan untuk menyampaikan pendapat kita terkait konten yang ada di dalam blog tersebut.
Tidak hanya melalui blog, salah satu pembelajaran dengan etnomatematika ialah, mahasiswa belajar melalui menghadiri pertunjukkan wayang. Tidak hanya menyaksikan pertunjukkan tersebut, Mahasiswa juga diminta untuk mengidentifikasi unsur-unsur dari pertunjukkan wayang tersebut yang dapat digunakan untuk menggali persoalan Matematika di SMP atau SMA. Salah satu unsurnya ialah unsur dilatasi. Ini diperoleh dari bayangan wayang pada layar, yang tercipta karena cahaya lampu yang mengenai wayang tersebut. Selain itu, terdapat pula unsur bangun ruang pada gamelan yang digunakan pada pertunjukkan. Serta, volume benda putar yang tercipta akibat wayang yang diputar oleh dalang saat pertunjukkan.
Tidak hanya dari pertunjukkan wayang, pembelajaran dengan Etnomatematika dapat diperoleh dari tempat-tempat wisata yang ada. Seperti Kraton Yogyakarta, Candi Prambanan, dan Candi Borobudur. Kelas dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama mengidentifikasi unsur Matematika di Kraton Yogyakarta, kelompok kedua di Candi Prambanan, dan kelompok ketiga di Candi Borobudur. Setelah melakukan identifikasi unsur Matematika di lokasi-lokasi tersebut, kami diminta untuk membuat RPP dengan pembelajaran berbasis etnomatematika, dan mempraktikannya di kelas. Salah satu Mahasiswa akan menjadi model Guru, dan Mahasiswa yang lain akan menjadi Siswa.
Pada praktik penerapan RPP yang sudah dibuat tersebut, siswa belajar melalui apa yang mereka lihat di objek wisata yang ada. Mereka mengkonstruksi sendiri pengetahuan yang sedang dipelajari, guru hanya memberi fasilitas untuk memudahkan mereka membangun pengetahuan tersebut. Salah satunya dengan menggunakan LKS yang berbasis etnomatematika. Tidak hanya itu, guru juga memfasilitasi siswa untuk melakukan apresepsi dengan menggunakan mini kuis yang selanjutnya dibahas bersama-sama. Sehingga terjadi berbagai variasi metode dan media. Guru juga memfasilitasi siswa untuk berpendapat di depan kelas, berdiskusi dengan teman atau kelompoknya, serta menyimpulkan sendiri pembelajaran yang sedang dilakukan berdasarkan kegiatan yang telah mereka lakukan. Dengan kata lain, pembelajaran yang ada adalah pembelajaran yang inovatif dan berpusat pada siswa atau sering disebut juga dengan Student Center, serta Guru hanya berperan sebagai fasilitator.
Anis Kurnia Ramadhani
(14301241020)
Math Edu Dept, Faculty of Math and Science, YSU, 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar