Minggu, 31 Desember 2017

Penelitian Kualitatif : Riset Etnografi

Penelitian Kualitatif
RISET ETNOGRAFI

Definisi dan Latar Belakang
Harris (1980 dalam Chreswell, 2015) menyebutkan bahwa Etnografi merupakan suatu desain kualitatif yang penelitinya mendeskripsikan dan menafsirkan pola yang sama dari nilai, perilaku, keyakinan, dan bahasa dari suatu kelompok berkebudayaa sama. Riset ini berfokus pada kelompok yang memiliki kebudayaan yang sama. Bisanya kelompok ini terdiri dari banyak orang yang saling berinteraksi sepanjang waktu. Menurut Agar (1968 dalam Chreswell, 2015) riset ini merupakan suatu cara untuk mempelajai sebuah kelompok berkebudayaan sama sekaligus produk akhir tertulis dari riset tersebut.

Ciri Utama
Berikut ini ciri utama dari Etnografi menurut Chreswell (2015) :
l Berfokus pada pengembangan deskripsi yang kompleks dan lengkap tentang kebudayaan dari kelompok yang berkebudayaan sama.
l Peneliti mencari berbagai pola dari aktivitas dari kelompok tersebut.
l Kelompok kebudayaan yang dimaksud telah berinteraksi dalam waktu yang cukup lama hingga dapat membangun pola kerja yang jelas.
l Teori memainkan peran penting dalam memfokuskan prhatian peneliti ketika melaksanakan Etnografi.
l Peneliti perlu dan harus untuk terlibat dalam kerja lapangan yang lama untuk mengumpulkan data melalui wawancara, pengamatan, simbol, artefak, dan beragam sumber data lainnya.
l 

Tipe
Berikut ini dua bentuk Etnografi yang populer :
1. Etnografi Realis
Van Maanen (1988 dalam Chreswell, 2015) merefleksikan Etnografi realis sebagai suatu pendirian tertentu yang diambil oleh peneliti terhadap para individu yang diteliti. Chreswell (2015) menyebutkan bahwa Etnografi realis ini merupakan suatu lapran objektif tentang situasi dari para partisipan di suatu tempat. Peneliti bertugas seperti seorang reporter yang mengetahui semuanya.
2. Etnografi Kritis
Thomas (1993 dalam Chreswell, 2015) serta Carspecken dan Apple (1992 dalam Chreswell, 2015) menyebutkan bahwa riset in membuat penulisnya memperjuangkan emansipasi bagi kelompok masyarakat yang terpinggirkan, menentang ketidaksetaraan dan dominasi. Komponen utama dari riset ini ialah orientasi bermuatan niai, memberdayakan masyarakat dengan memberi merka otoritas, menentang status quo, dan mengemukakan persoalan tentang kekuasaan dan kontrol.

Prosedur Pelaksanaan
Berikut ini adalah langakah dalam pelaksanaan etnografi menurut Chreswell (2015) :
l Menentukan apakah masalah riset tersebut cocok atau tidak jika menggunakan riset metode ini. Suatu masalah cocok untuk diterapkan dengan riset ini jika penelitian dimaksudkan untu mendeskripsikan kehidupan kelompok kebudayaan dan untuk mengeksplorasi berbagai keyakinan, bahasa, perilaku, dan persoalan yang mereka hadapi.
l Menentukan kelompok berkembudayaan sama yang akan dipelajari. Kelompok ini pada umumnya tealh hidup bersama dalam waktu yang lama.
l Menyeleksi tema, permasalahan, atau teori kebudayaan yang hendak dipelajari dari kelompok tersebut.
l Menentukan tipe etnografi yang hendak digunakan.
l Mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan konteks yang dibahas atau yang ada di lingkungan dimana kelompok tersebut berada, dengan datang ke tempat penelitian dan mengamati kehidupan sehari-hari dari individu yang ada di tempat tersebut.
l Dari data yang diperoleh peneliti menganalisisnya untuk memperoleh deskripsi dari kelompok kebudayaan tersebut dan menentukan tema yang muncul.
l Menyusun teori berdasarkan hasil analisis peneliti terhadap kelompok yang memiliki kebudayaan yang sama. Selain pembaca dapat mengetahui dan belajar dari potrer kehidupan kelompok berkebudayaan sama tersebut melalui sudut pandang pelaku atau partisipan dan dari sudut pandang peneliti.

Sumber :
Chreswell, John W. 2015. Penelitian Kulaitatif dan Desain Riset. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Resume Jenis Riset Kualitatif : Riset Etnografi
Anis Kurnia Ramadhani - 14301241020

Penelitian Kualitatif : Riset Fenomenologi

Penelitian Kualitatif
RISET FENOMENOLOGI

Definisi dan Latar Belakang
Penelitian ini menurut Chreswell (2015) akan mendiskripsikan pemaknaan umum dari sejumlah individu terhadap berbagai pengalaman hidup mereka terkait dengan konsep atau fenomena, dan memfokuskannya pada mendeskripsikan hal yang sama atau umum dari semua partisipan ketika mereka mengalami suatu fenomena. Sehingga tujuan utamanya ialah untuk mereduksi pengalaman individu pada fenomena menjadi deskripsi tentang intisarinya.
Berikut ini terdapat empat perspektif filosofis dalam fenomenologi menurut Stewart dan Mickunas (1990, dalam Chreswell 2015) :


Ciri Utama Fenomenologi
l Pendekatan pada fenomena yang akan dieksplorasi berdasarkan sudut pandang konsep atau ide tunggal.
l Eksplorasi fenomena pada kelompok individu yang semuanya telah mengalami fenomena tersebut.
l Pembahasan filosofis tentang ide dasr yang dilibatkan dalam studi fenomenologis. Pembahasan menelusuri pengalaman hidup individu dan bagaimana mereka memiliki pengalaman subjektif dan objektif dari fenomena tersebut.
l Peneliti membatasi dirinya dan tidak menyampurkan pengalaman yang dimiliki ke dalam riset tersebut.
l Pengumpulan data secara khas melalui wawancara terhadap individu yang telah mengalami fenomena tersebut. Tidak hanya itu tapi juga dari sumber lain seperti pengamatan dan dokumen.
l Analisis data yang dapat mengikuti prosedur sistematis yang bergerak dari satuan analisis yang sempit menuju satuanyang lebih luas kemudian menuju deskripsi yang detail yang merangkum dua unsur, yaitu hal yang dialami individu dan bagaimana mereka mengalaminya (Moustakas, 1994 dalam Chreswell 2015)
l Bagian deskriptif membahas esensi atau intisari dari pengalaman yang dialami individu atau partisipan.

Tipe
Di dalam penelitian ini terdapat dua pendekatan yang disoroti, pendekatan tersebut ialah sebagai berikut :
1. Fenomenologi Hermeneutik
van Manen (1990 dalam Chreswell 2015) menyebutkan bahwa riset tipe ini diarahkan pada pengalaman hidup fenomenologi dan ditujukan untuk menafsirkan teks kehidupan atau hermeneutik. Tipe ini bukan hanya tentang deskripsi saja akan tetapi juga merupakan proses penafsiran peneliti tentang pengalaman-pengalaman hidup tersebut.
2. Fenomenologi Transendental atau Psikologis
Moustakas (1994 dalam Chreswell 2015) menyatakan bahwa riset ini kurang berfokus pada penafsiran peneliti tetapi berfokus kepada deskripsi tentang pengalaman dari para partisipannya. Ketika riset ini diberlakukan peneliti akan mengurung atau menyingkirkan pengalaman yang sudah mereka miliki untuk memperoleh sudut pandang yang baru.

Prosedur Pelaksanaan
Moustakas (1994 dalam Chreswell, 2015) menyebutkan berikut ini adalah langkah-langkah prosedural yang utama dalam proses tersebut :
l Peneliti menentukan masalah risetnya yang tepat jika menggunakan pendekatan fenomenologis. Suatu masalah cocok untuk diulik dengan pendekatan ini ketika masalah tersebut digunakan untuk memahami pengalaman yang sama atau bersama dari beberapa individu pada fenomena.
l Fenomena yang menarik untuk dipelajari
l Peneliti mengenali dan menentukan asumsi filosofis yang luas dari fenomenologi.
l Mengumpulkan data dari individu yang telah mengalami fenomena tersebut. Pengumpulan data dapat melalui wawancara.
l Partisipan akan diberikan dua pertanyaan umum, yaitu apa yang telah dialami partisipan terkait dengan fenomena dan kondisi-kondisi yang mempengaruhi pengalaman partisipan pada fenomena tersebut.
l Menganalisis data fenomenologis tersebut serta menyoroti pernyataan penting. Selanjutnya peneliti mengembangkan kelompok makna dari pernyataan penting menjadi berbagai tema.
l Pernyataan penting dan tema selanjutnya digunakan untuk menulis deskripsi hal yang dialami oleh partisipan, atau yang dapat disebut sebagai deskripsi tekstual. Selain itu, kedua hal tersebut juga digunakan untuk menulis deskripsi tentang kondisi-kondisi yang mempengaruhi pengalaman partisipan pada fenomenta tersebut, atau dapat disebut sebagai deskripsi imajinatif atau deskripsi struktural.
l Menulis deskripsi gabungan dari deskripsi tekstual dan deskripsi struktural dan mempresentasikan esensi atau struktur dasar dari fenomena tersebut (struktur invarian esensial atau esensi).

Sumber :
Chreswell, John W. 2015. Penelitian Kulaitatif dan Desain Riset. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Resume Jenis Riset Kualitatif : Riset Fenomenologi
Anis Kurnia Ramadhani - 14301241020

Penelitian Kualitatif : Riset Naratif

Terdapat lima pendekatan dari penelitian kualitatif tersebut. Terdapat riset naratif, riset fenomenologis, riset grounded theory, riset etnografis, dan riset studi kasus. Pada bagian ini akan dibahas terkait riset naratif

Definisi dan Latar Belakang
Menurut Czarniawska (2004 dalam Chreswell, 2015) riset naratif ialah tipe desain kualitatif yang spesifik yang narsinya dipahami sebagai teks yang dituturkan atau dituliskan dengan menceritakan tentang peristiwa atau aksi atau rangkaian peristiwa yang terhubung secara kronologis.

Ciri Penelitian Kualitatif Riset Naratif
Berikut ini beberapa ciri penelitian kualitatif menurut Chreswell (2015), meskipun tidak semua proyek penelitian naratif mengandung unsur-unsur berikut :
1. Peneliti mengumpulkan cerita dari individu tentang pengalaman individaul yang dituturkan
2. Penelitian ini menuturkan pengalamna individual kemungkinan dapat memperlihatkan identitas individu dan bagaimana mereka melihat diri mereka
3. Cerita naratif dikumpulkan melalui berbagai bentuk data
4. Cerita naratif didengar dan kemudian disusun padra peneliti menjadi suatu kronologi
5. Cerita naratif dianalissi dalam berbagai cara
6. Cerita naratif sering mengandung titik balik atau ketegangan atau interupsi spesifik yang dapat dilihatkan
7. Cerita naratif berlangsung di tempat atau situasi yang spesifik

Tipe-tipe
Bagian Pertama
Pada bagian ini, peneliti akan mempertimbangkan strategi analisis data yang akan digunakan untuk melakukan penelitian. Menurut Chase (2005 dalam Chreswell, 2015) strategi ini digunakan supaya dapat menguraikan batasan pada narasi, menyusun narasi secara interaktif antara partisipan dan peneliti, dan penafsiran yang dikembangkan oleh beragam penutur. Riessman (2008 dalam Chreswell, 2015) mengemukakan bahwa terdapat tiga pendekatan yang dapat digunakanuntuk menganalisis cerita naratif, yaitu dengan analisis tematik (mengidentifikasi tema), analisis struktural, serta analisis dialogis atau permainan.

Bagian Kedua
Pada bagian ini, peneliti akan mempertimbangkan tentang tipe dari narasi. Terdapat beberapa pendekatan yang populer, yaitu (1) studi biografis, dimana peneliti menulis dan merekam pengalaman dari kehidupan orang lain; (2) auto-etnografi, dimana ditulis dan direkam oleh subjek penelitian); (3) sejarah kehidupan, dimana kehidupan seseorang digambarkan secara utuh, dan (4) sejarah tutur atau sejarah lisan adalah pengumpulan refleksi pribadi tentang peristiwa dan sebab atau akibatnya terhadap individu atau beberapa individu.

Prosedur dalam Pelaksanaan Riset Naratif
Penelitian ini bukanlah penelitian yang mengikuti pendekatan yang lockstep, tetapi merepresentasikan pengumpulan berbagai topik informal. Berikut ini prosedur dalam pelaksanaan riset :
l Menentukan apakah masalah atau pertanyaan riset cocok untuk riset naratif. Riset ini sendiri cocok diperuntukan untuk mengangkap cerita atau pengalaman hidup yang terperinci dari incividu atau kehidupan sejumlah kecil individu.
l Memilih individu atau lebih yang memiliki cerita atau pengalaman hidup yang ingin diceritakan dan bersedia menghabiskan banyak waktu untuk mengumpulkan cerita melalui berbagai jenis informasi.
l Mempertimbangkan cara pengumpulan data dan banyaknya cara untuk mengumpulkan data.
l Mengumpulkan informasi tentang konteks dari cerita
l Menganalisis cerita dari para partisipan
l Berkolaborasi dengan para partisipan secara aktif dalam riset.

S
umber :
Chreswell, John W. 2015. Penelitian Kulaitatif dan Desain Riset. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Resume Jenis Riset Kualitatif : Riset Naratif
Anis Kurnia Ramadhani - 14301241020

Penelitian Kualitatif : PENDAHULUAN

Penelitian Kualitatif merupakan salah satu dari berbagai jenis penelitian yang ada. Penelitian ini memiliki definisi yang beragam. Namun pada hakikatnya, pada penelitian ini peneliti akan melakukan pendekatan, pengumpulan data, serta analisis terhadap lingkungannya yang terkait dengan asumsi dan permasalahan yang telah ada.

Ciri-Ciri Penelitian Kualitatif
Terdapat beberapa ciri-ciri dari penelitian kualitatif ini. Berikut ini akan dijabarkan ciri-cirinya menurut John W. Creswell (2015) :
1. Lingkungan alamiah
Penelitian ini menggunakan data yang didapatkan dari lapangan atau tempat kejadian dimana partisipan mengalami masalah yang sedang dikaji oleh peneliti. Di tempat tersebut, peneliti akan mewawancarai, berbicara langsung, dan menyaksikan interaksi partisipan di lingkungan tersebut.
2. Peneliti sebagai instrumen penting
Peneliti akan secara langusung mengumpulkan data dari berbagai sumber, baik dari hasil wawancara, dokumen-dokumen, serta mengamati perilaku partisipan
3. Beragam metode
Di dalam mengumpulkan data, terdapat banyak metode yang dapat digunakan dalam penelitian ini. Metode yang dapat digunakan seperti metode wawancara, pengamatan, atau dari dokumen.
4. Melalui logika induktif dan deduktif
Di dalam penelitian, peneliti berbikir secara induktif dan deduktif, sehingga peneliti selalu menggunakan keterampilan berfikir secara kompleks selama proses penelitiannya.
5. Pemaknaan para partisipan
Peneliti bukan membawa pemahaman yang telah dia miliki sebelumnya terhadap permasalahan tersebut, tetapi menjaga fokusnya agar tetap mempelajari pemaknaan dari sudut pandang para partisipan terhadap masalah tersebut.
6. Desain baru dan dinamis
Proses penelitian ini bergerak secara dinamis, sehingga tidak dapat ditemukan desain dari perencanaan riset secara pasti. Ini dikarenakan adanya kemungkinan adanya perubahan waktu pada setiap proses dan tahapan setelah peneliti memasuki lapangan dan mengumpulkan data.
7. Refleksivitas
Para peneliti akan menyampaikan latar belakang mereka dan menjelaskan bagaimana hal tersebut dapat mempengaruhi penafsiran mereka terhadap informasi penelitian dan kesimpulan, serta hasil yang diperoleh dari penelitian tersebut.
8. Pembahasan holistic
Peneliti tidak hanya fokus pada hubungan sebab akibat dari berbagai faktor, tetapi juga bagaimana hubungan kompleks dari berbagai faktor dalam situasi tersebut.

Kapan dapat Menggunakan Penelitian Kualitatif?
Penelitian ini sendiri dilakukan pada saat tertentu, yaitu ketika terdapat permasalahan atau isu yang perlu untuk diteliti atau dieksplorasi. Ini dikarenakan adanya kebutuhan untuk mempelajari kelompok tersebut dan mengidentifikasi variabel yang sulit untuk ditemukan. Selain itu, penelitian dilakukan guna meningkatkan pemahaman yang lengkap terhadap permasalahan tersebut. Penelitian ini juga diterapkan ketika penelitian secara kuantitatif dan analisis statistik tidak cocok untuk permasalahan tersebut.

Apa yang disyaratkan Penelitian Kualitatif pada Penelitinya?
Untuk melaksanakan penelitian ini, diperlukan komitmen yang kuat dari peneliti untuk meneliti masalah. Selain itu, peneliti perlu berkomitmen dalam meluangkan banyak waktu di lapangan. Ini dikarenakan sumber berada di lapangan. Peneliti juga perlu untuk terlibat dalam analisis data yang kompleks dan memilih-milih data yang didapatkan agar dapat diubah menjadi sejumlah kecil tema atau kategori. Tidak hanya itu, peneliti juga perlu untuk menulis bagian yang panjang-panjang. Ini dikarenakan bukti penelitian yang ada perlu mendukung klaim yang ada dan peneliti juga perlu menyampaikan dari berbagai sudut pandang.

Proses Desain Penelitian Kualitatif
Chreswell (2015) dalam bukunya menyampaikan bahwa perancangan dari penelitian ini dapat dibagi menjadi 3, yaitu pertimbangan awal, tahap atau langkah yang dijalani dalam proses penelitian, dan unsur yang terdapat dalam semua tahapan.
1. Pertimbangan awal
Pada tahap ini, menyengkut tentang pertimbangan awal yang dipikirkan sebelum memulai penelitian. Dimulai dari literatur yang digunakan dan penggunaannya, format dari penulisan untuk proyek kualitatif, dan latar belakang dan ketertarikan peneliti terhadap hal yang akan dibawa kedalam riset tersebut.
2. Langkah / Tahap dalam Proses Penelitian
Berikut ini adalah beberapa langkah atau tahapan menurut Chreswell (2015)
1. Mengajukan berbagai pertanyaan penelitian. Pertanyaan yang ditanyakan bukanlah pertanyaan yang berat. Semakin berjalannya penelitian, pertanyaan tentang permasalahan tersebut akan berkembang menjadi lebih sempurna.
2. Mengumpulkan data. Data dapat diperoleh dari pertanyaan-pertanyaan terbuka yang sudah disiapkan sebelumnya. Selain itu dapat juga dilakukan pengamatan terhadap permasalahan yang ada ataupun dengan pengumpulan data atau dokumen yang terkait dengan masalah tersebut.
3. Menganalisis data. Analisis data ini dilakukan secara induktif, dari prespektif yang khusus ke umum dan mengelompokkannya berdasar tema atau kategori tertentu. Selain itu dilakukan juga secara deduktif untuk mengumpulkan bukti dan mendukung tema
4. Penulisan laporan
Pada dasarnya Chreswell menyampaikan bahwa terdapat keterkaitan antara aktifitas pengumpulan data, analisis data, dan penulisan laporan tersebut.

Persoalan Etika dalam Setiap Tahap pada Proses Penelitian
Persoalan ini dapat terjadi di berbagai tahapan, bahkan dapat juga terjadi sebelum pelaksanaan penelitian. Sebelum melaksanakan penelitian, biasanya persoalan yang muncul terkait dengan mencari persetujuan dan adaptasi dengan partisipan. Pada saat pengumpulan data, persoalan yang muncul ialah tentang cara memperoleh data dengan cara yang tidak menyebabkan ketidakseimbangan kekuasaan dan tidak memperalat partisipan. Pada saat analisis, persoalan yang muncul dapat berupa upaya peneliti agar tidak sepaham dengan partisipan. Pada tahap penulisan laporan, salah satu masalah yang muncul adalah tentang orisinalitas tulisan, dimana penulis harus bersikap jujur dan tidak menjiplak hasil tulisan atau penelitian dari peneliti atau penulis lainnnya.

Sumber :
Chreswell, John W. 2015. Penelitian Kulaitatif dan Desain Riset. Yogyakarta : Pustaka Pelajar

Resume Pendahuluan Penelitian Kualitatif
Anis Kurnia Ramadhani - 14301241020

Minggu, 11 Juni 2017

Pengembangan Pendidikan Matematika bersama Prof. Dr. Marsigit, M.A pada Kuliah Etnomatematika

Belajar merupakan suatu kegiatan yang akan dilakukan manusia kapanpun juga. Sejak di dalam buaian, hingga liang lahat. Belajar tidak harus dibatasi oleh ruang dan waktu. Materi yang dipelajari pun dapat beraneka ragam, mulai dari pengetahuan agama, pengetahuan alam, pengetahuan umum, pengetahuan bahasa, pengetahuan sosial, matematika, dan lain sebagainya. Manusia juga dapat belajar dari mana saja dan dari siapa saja. Di kampus, di sekolah, dari seminar yang dilalui, atau dari kebudayaan yang ada di sekitar kita. Seperti pada kelas Etnomatematika yang diampu oleh Prof. Dr. Marsigit, M.A., kami belajar melalui kebudayaan yang ada di Indonesia.

Indonesia memiliki banyak kebudayaan, termasuk di daerah Yogyakarta. Kebudayaan yang ada tersebut, dapat dijadikan suatu sumber belajar Matematika, yang nanti akan disebut sebagai Etnomatematika. Etnomatematika sendiri sangat berbeda dengan pembelajaran kontekstual. Ini dikarenakan etno bukanlah pembelajaran berbasis kontekstual, mereka tidaklah sama. Sehingga pembelajaran etno ialah pembelajaran kontekstual, sedangkan pembelajaran kontekstual bukanlah etno.

Pembelajaran yang dilakukan tidak hanya di kelas, tetapi juga di luar kelas. Pak Marsigit memiliki sebuah blog. Mahasiswa dapat belajar melalui blog tersebut, sehingga belajar tidak akan terbatas hanya di kelas dan jam kuliah saja. Jika ingin membuka blog beliau, pembaca hanya perlu mengklik di sini, dan pembaca dapat berkunjung ke alamat blog beliau. Melalui blog tersebut, Mahasiswa dapat memperoleh referensi terkait pembelajaran Matematika. Tidak hanya itu, kita juga dipersilahkan untuk menyampaikan pendapat kita terkait konten yang ada di dalam blog tersebut.

Tidak hanya melalui blog, salah satu pembelajaran dengan etnomatematika ialah, mahasiswa belajar melalui menghadiri pertunjukkan wayang. Tidak hanya menyaksikan pertunjukkan tersebut, Mahasiswa juga diminta untuk mengidentifikasi unsur-unsur dari pertunjukkan wayang tersebut yang dapat digunakan untuk menggali persoalan Matematika di SMP atau SMA. Salah satu unsurnya ialah unsur dilatasi. Ini diperoleh dari bayangan wayang pada layar, yang tercipta karena cahaya lampu yang mengenai wayang tersebut. Selain itu, terdapat pula unsur bangun ruang pada gamelan yang digunakan pada pertunjukkan. Serta, volume benda putar yang tercipta akibat wayang yang diputar oleh dalang saat pertunjukkan.

Tidak hanya dari pertunjukkan wayang, pembelajaran dengan Etnomatematika dapat diperoleh dari tempat-tempat wisata yang ada. Seperti Kraton Yogyakarta, Candi Prambanan, dan Candi Borobudur. Kelas dibagi menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama mengidentifikasi unsur Matematika di Kraton Yogyakarta, kelompok kedua di Candi Prambanan, dan kelompok ketiga di Candi Borobudur. Setelah melakukan identifikasi unsur Matematika di lokasi-lokasi tersebut, kami diminta untuk membuat RPP dengan pembelajaran berbasis etnomatematika, dan mempraktikannya di kelas. Salah satu Mahasiswa akan menjadi model Guru, dan Mahasiswa yang lain akan menjadi Siswa.

Pada praktik penerapan RPP yang sudah dibuat tersebut, siswa belajar melalui apa yang mereka lihat di objek wisata yang ada. Mereka mengkonstruksi sendiri pengetahuan yang sedang dipelajari, guru hanya memberi fasilitas untuk memudahkan mereka membangun pengetahuan tersebut. Salah satunya dengan menggunakan LKS yang berbasis etnomatematika. Tidak hanya itu, guru juga memfasilitasi siswa untuk melakukan apresepsi dengan menggunakan mini kuis yang selanjutnya dibahas bersama-sama. Sehingga terjadi berbagai variasi metode dan media. Guru juga memfasilitasi siswa untuk berpendapat di depan kelas, berdiskusi dengan teman atau kelompoknya, serta menyimpulkan sendiri pembelajaran yang sedang dilakukan berdasarkan kegiatan yang telah mereka lakukan. Dengan kata lain, pembelajaran yang ada adalah pembelajaran yang inovatif dan berpusat pada siswa atau sering disebut juga dengan Student Center, serta Guru hanya berperan sebagai fasilitator.



Anis Kurnia Ramadhani
(14301241020)
Math Edu Dept, Faculty of Math and Science, YSU, 2017