Langit
malam semakin mengelam
Gemuruh
guntur membuat malam semakin mencekam
Rintik
hujan menghujam tubuh yang berdiri mematung
Bagaikan
sebilah pedang yang tertancap kuat di dalam jantung
Suara itu berucap pelan dan lembut
Namun terlihat seperti kabut
Membuatku tak mempu tuk melihat jauh
Membuat tubuh berdiri dingin dan kukuh
Hati
sakit dan menangis pilu
Tatapan
ini berubah sendu
Elegi
mengalun merdu di dalam kalbu
Namun
rasa tetap hanya padamu
Nadya menatap
lembaran yang ada di tangannya. Ia menyadari sesuatu, bahwa ia kini tak lagi
menyendiri lalu beruraian air mata seperti dulu saat ia sedang merasa hatinya
tak enak. Kali ini ia memang menyendiri, namun tak menangis melainkan menyusun
berbagai kata menjadi barisan kalimat yang indah .
“Heh, anak
galau!” kalimat itu langsung membuat Nadya bergerak untuk menutup bukunya lalu
mendekap buku itu. Dilihatnya Aryo yang kini duduk di kanannya dengan pakaian
rapi. Tampak terlihat bahwa ia ingin pergi. “Loe kenapa, sih? Kok gitu banget?”
Nadya hanya menggeleng kuat. “Dari pada kayak begini, temenin gue cari kado,
deh.” Nadya langsung mendelik mendengarnya. Diam. Nadya hanya mampu menatap
Aryo. Aryo menunggu jawaban Nadya dengan menatap Nadya juga. Karena Nadya tak
menjawab, Aryo langsung meraih tangan kanan Nadya. Menarik Nadya berdiri dari
duduknya dan berjalan menuju rumah Nadya. Di depan gerbang rumah Nadya pun
sudah terparkir motor Aryo di sana.
“Ganti, sana. Supaya nggak
malu-maluin! Sana!” ucap Aryo setelah melepaskan genggamannya dari tangan
Nadya.
“Tapi, Yo.”
“Nggak ada tapi-tapian. Gue udah
ijin sama mama loe. Sana masuk!” Nadya langsung masuk ke dalam rumahnya yang
rimbun oleh pepohonan. Taman kecil yang ada di halaman pun tertata rapi.
Beberapa saat kemudian, Nadya keluar dari rumahnya. Celana pendek yang tadi ia
pakai sudah berganti dengan celana panjang jeans yang berwarna hitam.
“Oh ya, Yo. Tuh cewek yang mau kamu
beliin kado cewek yang nulis surat buat kamu ya?” tanya Nadya sambil mengenakan
helm miliknya.
“Hah? Bukan, kok.” Mendengar itu, Nadya hanya ber”oh” ria.
Sesampainya di tempat yang dituju oleh Aryo, yang merupakan toko
aksesoris, Nadya langsung menuju tempat yang menyediakan gelang. Matanya
langsung tertuju pada sebuah gelang perak yang terdapat huruf “N” di tengahnya,
yang setiap ujungnya akan membentuk lingkaran.
“Bagus, ya, Yo?” tanya Nadya pada Aryo yang kini sedang ada di samping
kanannya. Aryo meraih gelang yang ada di tangan Nadya. mengamatinya sejenak.
“Bagus. Gue ambil ini, deh.”
“Lha, kok?”
“Liat. Di sini kan ada huruf “N”-nya. Desainnya bagus tapi tetap
sederhana. Sesuai sama dia.”
“Terus apa hubungannya sama “N”-nya? Nama loe kan nggak ada huruf
“N”-nya.”
“Nama tuh cewek, Nadya. Namanya Nana. Ada huruf “N”-nya, kan? Dua
malah.” Mendengar penjelasan Aryo, Nadya
hanya menganggukkan kepalanya. Dilihatnya punggung Aryo yang menjauh menuju
kassa toko asesoris tersebut. Senyuman tak lepas dari bibirnya yang terlalu
merah untuk ukuran seorang cowok. Tubuhnya yang tinggi menjulang berdiri santai
di depan kassa sambil mengedarkan pandangannya di seluruh penjuruh toko itu.
Setelah Aryo dan Nadya membeli gelang tersebut, mereka berdua
menuju restaurant cepat saji yang ada di lantai bawah mall tersebut. Mereka
tidak makan besar di restaurant tersebut, dan mereka hanya membeli makanan
kecil yang disediakan oleh restaurant tersebut.
Selama mereka makan, Nadya tak pernah menatap Aryo yang sedang
duduk di hadapannya. Nadya hanya memperhatikan orang-orang yang lewat di
eskalator yamg memang dekat dengan ia duduk saat ini. tak diacuhkannya Aryo
yang memanggilinya sedari tadi. Sebenarnya ia mendengar dan tahu jika Aryo
sedari tadi memanggilnya. Hanya saja, ia sedang tak ingin berbicara dan
memandang Aryo.
“Loe kenapa, sih, Nad? Patah hati, ya?” tanya Aryo pada akhirnya.
Tanya itu langsung dijawab oleh Nadya dengan anggukkan. “Lho? Patah hati
gara-gara siapa? Wisnu lagi?”
“Ini nggak ada hubungannya sama Wisnu, Yo.” jawab Nadya sambil
memandang Aryo.
“Terus? Apaan, dong, kalo bukan?”
“Haa..gue belum siap cerita.” Ucap Nadya sambil menunduk lesu.
“Udah, nggak papa. Santai aja. Oh ya, boleh tahu, nggak, siapa
yang ngasih surat ke gue dulu?” mendengar pertanyaan itu, nadya kembali
memandang Aryo.
“Emang kenapa, Yo?” tanya Nadya heran.
“Ya, tolong bilangin ke dia. Gue suka suratnya. Makasih, udah buat
surat itu buat gue. Baru pertama kali, gue dapet surat dari pengagum rahasia.”
Ucap Aryo dengan senyum jahil khasnya.
“Idiih!! Pede banget, sih? Ckckck.. gue heran, deh, apaan coba yang
ada sama loe sampai-sampai bikin cewek itu suka sama loe?”
“Aku kan cakep, Nad.”
“Yaah.. ketularan siapa loe, sampe bisa narsis banget gini?.”
“Hahaha.. gitu, dong, ketawa. Kan manis!”
“Apaan coba?” ucap Nadya malu-malu. “Latihan ngegombal, kan?
Dasar! Loe kan nggak pernah muji-muji kayak gitu!”
“Tau aja, deh. Pulang, yuk. Keburu malem, ntar.” Ajakan itu
dijawab oleh Nadya dengan anggukkan.
***
“Jadi loe punya ide apa,
Nad?” tanya Aryo saat mereka sedang makan siang di foodcourt si sebuah mall.
Nadya menghentikan kegiatan makannya. “Loe kan udah liat orangnya, nah, cara
nembaknya enaknya kayak gimana?”
Nadya terlihat berpikir, ia memang sudah rela membantu Aryo jadian
dengan cewek yang beberapa menit lalu ia lihat. Mereka memang tak sengaja
bertemu di toko buku. Melihat gadis bernama Nana itu, Nadya merasa Aryo cocok
dengan gadis itu. ia manis, ceria. Tak salah kalau Aryo memilih gadis itu.
“Gimana kalo pakai kertas. Jadi kertas pertama ada tulisan, ‘Hai
Nana?’. Nah, setelah dia baca kata itu, kamu tunjukkin kertas lainnya yang
isinya satu atau dua kata, dan seterusnya.” Aryo masih bingung dengan
penjelasan Nadya. “Gini, deh. Udah pernah liat video klip ‘Number One For Me’-nya
Maher Zain, kan?” Aryo mengangguk membenarkan. “Kayak gitu maksud gue.” Aryo
pun mengangguk mengerti.
“Karena besok hari ulang tahunnya, kita mulai sore ini. tapi masa
Cuma itu doang? Maksudku, masa nggak ada tambahan, gitu?”
“Ya apa, Yo? Gue nggak
ngerti. Kan loe yang lebih tahu dia kayak gimana. Loe lebih tahu dia dari pada
gue.” Ucap Nadya sambil menyerut es tehnya hingga habis tak tersisa. “Gini deh,
waktu loe nunjukkin kertas-kertas itu, ada lagu kesukaannya dia yang jadi backsound. Tapi lagunya yang pas.”
“Oke, kini beberapa lagu kesukaan dia. Semuanya ada di sini.
Tolong pilihin, ya?” Nadya langsung tercengang melihat jajaran lagu yang ada di
handphone milik Aryo. Lagu-lagu
tersebut terdapat dalam sebuah folder berjudul “Her Favorite Songs”.
Yang membuat Nadya semakin tercengang ialah, bahwa semua lagu kesukaan Nana
juga merupakan lagu kesukaannya.
“Apa-apaan coba? Kok sama gini?” tanya Nadya dalam hati. “Menurut
gue nggak ada yang cocok. Jadi, mendingan nggak usah aja.” Kerut tertampang
jelas di kening Aryo. “Karena apa? Karena kalau aku pikir lagi, lebih so sweet
kalo kayak gitu.”