Senin, 29 April 2013

Bakso Pak Brewok

Bakso. Bakso merupakan makanan yang sangat umum bagi masyarakat Indonesia. Makanan yang disajikan dengan hangat di dalam mangkuk ini berisi beberapa gelinding bulatan daging yang dicampur dengan tepung. Kuah pun tak luput dalam penyajian satu mangkuk bakso. Artikel ini akan membahas tentang bakso yang menjadi sajian utama di kedai Bakso Pak Brewok.

Harga bakso di tempat ini sangat pas di kantong. Dengan harga 8.000 rupiah, Anda akan mendapatkan satu porsi bakso yang terdiri atas 4 butir bakso.

Yang membedakan bakso ini dengan bakso yang lain ialah pada bakso gorengnya. Bakso goreng yang akan Anda dapatkan sangat renyah. Tidak keras dan tidak lembek. Bakso goreng di Bakso Pak Brewok tetap renyah dan gurih saat dikonsumsi, walaupun sudah lama bakso goreng tersebut terendam dalam kuah bakso yang panas. warnanya yang coklat pun sangat menggugah selera.

Perbedaan yang lain ialah terletak pada pelengkapnya. Di dalam mangkuk, Anda akan disuguhi dengan potongan-potongan kubis yang cukup banyak, yang kubis ini akan menambahkan tekstur dan rasa saat Anda menikmatinya. Tak ketinggalan mi telur dan potongan tahu terdapat di mangkuk Anda.

Rasa daging pada bakso tersebut benar-benar terasa di lidah. Lembut dan tidak alot. Anda akan dengan mudah memotong dan mengunyah bakso tersebut. Sajian pun dipermanis dengan taburan bawang goreng di atasnya.

Berikut ini ialah gambar dari satu porsi bakso yang tersedia.


Dan perpaduan komponen tersebut, pasti akan membuat Anda kenyang.

Selain menyediakan bakso, juga tersedia mi ayam., dengan harga yang sama, 8.000 rupiah. Minum yang tersedia adalah teh dan jeruk dengan harga 2.000 rupiah. Anda dapat memesan teh atau jeruk tersebut dengan es atau disajikan dalam kondisi hangat.



Warung yang beralamat di Jalan Pakuningratan 10 Yogyakarta ini, sangat nyaman. Meja besarnya tersusun dan tertata rapi di dalam kedai tersebut. Di tempat ini terdapat dua buah gerobak dorong yang biasa digunakan oleh penjual bakso keliling. Gerobak bakso terletak di bagian depan, dekat dengan pintu masuk. Sedangkan gerobak mi ayam terletak di bagian belakang. Dengan posisi gerobak yang letaknya di kedua sisi tersebut, Anda dapat menyaksikan bagaimana penjual meracik komponen-komponen untuk membuat satu porsi bakso atau mi ayam.



Tugas Pariwisata
Anis Kurnia R / XI IPA 6/ 05

Selasa, 16 April 2013

Puisi Untuk Dia - Part 4

Sepanjang hari ini banyak sekali yang mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” pada Nadya. Termasuk Wisnu. Bahkan Bundanya pun menyiapkan makanan kesukaan Nadya secara khusus di ulang tahunnya yang ke 17. Tidak ada pesta ulang tahun. merayakan ulang tahun memang bukan suatu kebiasaan bagi Nadya. Nadya dan sekeluarga lebih suka pada hari ulang tahun itu, berbagi rezeki pada orang yang kurang mampu.
jam menunjukkan pukul 4 sore dan Nadya beserta teman sekelompoknya belum selesai mengerjakan tugas mereka. Sesekali Nadya menengok handphonenya yang tergeletak di atas meja. Tak ada satu pun sms dari Aryo. Tak ada ucapan selamat ulang tahun dari Aryo. Nadya tahu, pasti Aryo sedang sibuk dengan acaranya. Tapi apakah hanya mengirimi sms tak sempat? Rasa kecewa peerlahan menerpa pada diri Nadya.
Ika yang melihatnya hanya dapat menggelengkan kepalanya. Nadya sudah cerita semuanya. “Nad, ayo, dong. Kita selesaikan sekarang. Jangan liat handphone muluk.”, ucap Ika entah yang keberapa kalinya.
“DRREET... DRREET... DRREET...” handphone milik Nadya bergetar. Ada sebuah telepon masuk. Langsung saja Nadya meraih handphonenya dan mengangkat telepon dari Aryo tersebut. Berjalan menjauh dari kedua temannya.
“Nad, loe di mana?”
“Di sekolah. Emang kenapa, Yo? terus, gimana acaramu tadi? Sukses, kah?”
“Kamu di kelas, kan?” Aryo tidak menjawab, namun malah bertanya lagi pada Nadya.
“Iya. Emang kenapa, sih, Yo?”
“Loe keluar kelas, deh.”
Dengan kebingungan yang amat sangat dan kening yang penuh kerutan, Nadya melangkah keluar kelasnya. Langit yang cerah menyambut Nadya yang keluar dari kelasnya yang ada di lantai dua. Kembali ia melangkah menuju tembok pembatas. Diedarkannya penglihatannya kemanapun. “Udah. Terus, ngapain coba?”, tanya Nadya kemudian.
“Lihat ke bawah.”
Ketika Nadya menengok ke bawah, ia menemukan sesuatu yang tak ia sangka. Aryo tengah berdiri dengan memegang lembaran kertas. Tangan kanannya juga memegang handphone miliknya. Nadya pun membaca tulisan yang tertera di sana.
Hai, Nadya?
Aryo kemudian menarik lembar pertama itu yang lalu ia selipakan di bagian paling belakang. Aryo terus seperti itu, dan Nadya tetap membaca setiap kata yang tertuliskan di kertas itu.
Aku di sini mau bilang makasih
Makasih udah jadi sahabat yang baik
Makasih atas ide-idemu
Makasih atas kesabaranmu
Makasih untuk semuanya :D
Senyum terukir di bibir Nadya. Nadya berfikir jika Aryo sudah berhasil mengungkapkan isi hatinya. Ia senang. Tapi sebagian hatinya runtuh.
Dan...
Makasih karna udah mengisi hati dan hariku...
Mata Nadya terbelalak maksimal. Ia tak mengerti dan tak yakin dengan kalimat yang baru saja ia baca. Kembali ia membaca kalimat tersebut. Apakah ia bisa berharap bahwa itu kenyataan?
Aku jujur nadya.
Kau ada di hatiku...
Tanpa aba-aba, Nadya langsung berlari menuju tangga. Menuruni undakkan yang tersusun rapi itu dengan gerakan cepat. Takut Aryo cepat pergi. Di tepi lapangan ini, Nadya melihat Aryo yang berdiri di tengah lapangan dengan kedua tangan masih memegang lembaran kertas dan senyum yang merekah. Kali ini, kertas yang paling depan sudah berganti kalimat.
Kenapa kamu nangis?
Setelah membaca itu, Nadya langsung berlari menuju tempat dimana Aryo berdiri. Dipukulnya lengan kanan Aryo dengan keras yang membuat Aryo mengerang kesakitan.
“Heh, cengeng. Apa-apaan, sih?” tanya Aryo sambil mengelus lengan kanannya.
“Loe itu yang apa-apaan? Bercandanya itu nggak lucu! Kalo mau nembak Nana, ya udah ke sana. Kenapa loe malah ke sini, hah?”
Dengan diam Aryo meraih ranselnya. Dimasukkan lembaran kertas itu ke dalam ransel olehnya. Ketika tangan kanan Aryo keluar dari ransel itu, ia membawa sebuah kotak. Aryo membuka kotak itu an mengambil isinya. Ditariknya tangan kiri Nadya lalu tangan tersebut dimasukkan kedalam lubang perak yang manis itu.
Nadya menutup mulutnya saat mengetahui apa yang Aryo kenakan pada tangan kirinya. Gelang itu! Kembali tanpa perintah, Nadya memeluk Aryo erat.
***
            Matahari senja bersinar terang di ufuk barat. Mempersilahkan kepada gelapnya malam untuk menampakkan kerlipan bintang yang berjuta-juta.
            “Gue boleh tanya sesuatu?” tanya Nadya tanpa mengalihkan fokus matanya dari sinar matahari tenggelam.
            “Tanya apaan emang?”
            “Ehm..” Nadya tertunduk. Ia ragu untuk menanyakan hal ini. Tapi jika ia tak bertanya, ia takkan tahu apa jawabannya. “Loe bener kemarin emang nggak nembak Nana? Emang loe nggak suka sama dia?”
            Mendengar itu Aryo mengerutkan keningnya. “Emang loe mau gue nembak dia?”
“Bukan gitu,” dengan cepat ia mengalihkan fokus matanya pada sosok yang kini duduk di kanannya. “Maksud gue itu—“
“Iya, gue ngerti maksud loe. “ sela Aryo. “Loe mau tau jawabannya?” kembali pandangan Aryo berpindah pada Nadya. Ia menatap Nadya dengan dalam, membuat Nadya hanya mampu menganggukkan kepalanya.
“Gue sebenernya bohong kalo gue suka sama Nana. Asal loe tahu aja, dia itu udah punya cowok. Jadi loe tau kan alasan gue nggak nembak dia? Karna gue emang nggak suka sama dia,” Aryo tidak menyelesaikan penjelasannya. Ia malah kembali menatap mata bulat Nadya. Perlahan tangan kiri mengelus kepala Nadya. “Karna cewek yang gue suka, yang gue sayangi itu loe, Nad.” Kembali Nadya terjebak dalam bening mata di hadapannnya ini.
            “Nih, buat kamu,” kata Aryo  mengalihkan perhatian. Ia memberikan sebuah kertas yang terlipat rapi pada Nadya. nadya menerima dengan pandangan heran. “Buka aja.” Nadya membuka lipatan itu perlahan. Ketika ia tahu apa isinya, matanya terbelalak.
            “Puisi?”
            “Iya. Puisi. Dari penggemarku, kan? Atau, aku bisa manggil dia Nadya.”
            “Dari mana kamu..?”
            “Heh, cengeng. Jelas aku tahu, lah. Orang ada tandanya kalo yang buat itu kamu.” Ucap Aryo sambil menunjukkan tanda bintang di kertas itu.
            Nadya hanya tersenyum menampakkan giginya yang rapi. Malu sendiri pada cowok yang duduk di kanannya.
            “Dasar, sembrono!” ucap Aryo sambil mengacak-acak rambut Nadya.
-END-

Puisi Untuk Dia - Part 3

Langit malam semakin mengelam
Gemuruh guntur membuat malam semakin mencekam
Rintik hujan menghujam tubuh yang berdiri mematung
Bagaikan sebilah pedang yang tertancap kuat di dalam jantung
      Suara itu berucap pelan dan lembut
      Namun terlihat seperti kabut
      Membuatku tak mempu tuk melihat jauh
      Membuat tubuh berdiri dingin dan kukuh
Hati sakit dan menangis pilu
Tatapan ini berubah sendu
Elegi mengalun merdu di dalam kalbu
Namun rasa tetap hanya padamu
      Nadya menatap lembaran yang ada di tangannya. Ia menyadari sesuatu, bahwa ia kini tak lagi menyendiri lalu beruraian air mata seperti dulu saat ia sedang merasa hatinya tak enak. Kali ini ia memang menyendiri, namun tak menangis melainkan menyusun berbagai kata menjadi barisan kalimat yang indah .
      “Heh, anak galau!” kalimat itu langsung membuat Nadya bergerak untuk menutup bukunya lalu mendekap buku itu. Dilihatnya Aryo yang kini duduk di kanannya dengan pakaian rapi. Tampak terlihat bahwa ia ingin pergi. “Loe kenapa, sih? Kok gitu banget?” Nadya hanya menggeleng kuat. “Dari pada kayak begini, temenin gue cari kado, deh.” Nadya langsung mendelik mendengarnya. Diam. Nadya hanya mampu menatap Aryo. Aryo menunggu jawaban Nadya dengan menatap Nadya juga. Karena Nadya tak menjawab, Aryo langsung meraih tangan kanan Nadya. Menarik Nadya berdiri dari duduknya dan berjalan menuju rumah Nadya. Di depan gerbang rumah Nadya pun sudah terparkir motor Aryo di sana.
            “Ganti, sana. Supaya nggak malu-maluin! Sana!” ucap Aryo setelah melepaskan genggamannya dari tangan Nadya.
            “Tapi, Yo.”
            “Nggak ada tapi-tapian. Gue udah ijin sama mama loe. Sana masuk!” Nadya langsung masuk ke dalam rumahnya yang rimbun oleh pepohonan. Taman kecil yang ada di halaman pun tertata rapi. Beberapa saat kemudian, Nadya keluar dari rumahnya. Celana pendek yang tadi ia pakai sudah berganti dengan celana panjang jeans yang berwarna hitam.
            “Oh ya, Yo. Tuh cewek yang mau kamu beliin kado cewek yang nulis surat buat kamu ya?” tanya Nadya sambil mengenakan helm miliknya.
“Hah? Bukan, kok.” Mendengar itu, Nadya hanya ber”oh” ria.
Sesampainya di tempat yang dituju oleh Aryo, yang merupakan toko aksesoris, Nadya langsung menuju tempat yang menyediakan gelang. Matanya langsung tertuju pada sebuah gelang perak yang terdapat huruf “N” di tengahnya, yang setiap ujungnya akan membentuk lingkaran.
“Bagus, ya, Yo?” tanya Nadya pada Aryo yang kini sedang ada di samping kanannya. Aryo meraih gelang yang ada di tangan Nadya. mengamatinya sejenak.
“Bagus. Gue ambil ini, deh.”
“Lha, kok?”
“Liat. Di sini kan ada huruf “N”-nya. Desainnya bagus tapi tetap sederhana. Sesuai sama dia.”
“Terus apa hubungannya sama “N”-nya? Nama loe kan nggak ada huruf “N”-nya.”
“Nama tuh cewek, Nadya. Namanya Nana. Ada huruf “N”-nya, kan? Dua malah.” Mendengar  penjelasan Aryo, Nadya hanya menganggukkan kepalanya. Dilihatnya punggung Aryo yang menjauh menuju kassa toko asesoris tersebut. Senyuman tak lepas dari bibirnya yang terlalu merah untuk ukuran seorang cowok. Tubuhnya yang tinggi menjulang berdiri santai di depan kassa sambil mengedarkan pandangannya di seluruh penjuruh toko itu.
Setelah Aryo dan Nadya membeli gelang tersebut, mereka berdua menuju restaurant cepat saji yang ada di lantai bawah mall tersebut. Mereka tidak makan besar di restaurant tersebut, dan mereka hanya membeli makanan kecil yang disediakan oleh restaurant tersebut.
Selama mereka makan, Nadya tak pernah menatap Aryo yang sedang duduk di hadapannya. Nadya hanya memperhatikan orang-orang yang lewat di eskalator yamg memang dekat dengan ia duduk saat ini. tak diacuhkannya Aryo yang memanggilinya sedari tadi. Sebenarnya ia mendengar dan tahu jika Aryo sedari tadi memanggilnya. Hanya saja, ia sedang tak ingin berbicara dan memandang Aryo.
“Loe kenapa, sih, Nad? Patah hati, ya?” tanya Aryo pada akhirnya. Tanya itu langsung dijawab oleh Nadya dengan anggukkan. “Lho? Patah hati gara-gara siapa? Wisnu lagi?”
“Ini nggak ada hubungannya sama Wisnu, Yo.” jawab Nadya sambil memandang Aryo.
“Terus? Apaan, dong, kalo bukan?”
“Haa..gue belum siap cerita.” Ucap Nadya sambil menunduk lesu.
“Udah, nggak papa. Santai aja. Oh ya, boleh tahu, nggak, siapa yang ngasih surat ke gue dulu?” mendengar pertanyaan itu, nadya kembali memandang Aryo.
“Emang kenapa, Yo?” tanya Nadya heran.
“Ya, tolong bilangin ke dia. Gue suka suratnya. Makasih, udah buat surat itu buat gue. Baru pertama kali, gue dapet surat dari pengagum rahasia.” Ucap Aryo dengan senyum jahil khasnya.
“Idiih!! Pede banget, sih? Ckckck.. gue heran, deh, apaan coba yang ada sama loe sampai-sampai bikin cewek itu suka sama loe?”
“Aku kan cakep, Nad.”
“Yaah.. ketularan siapa loe, sampe bisa narsis banget gini?.”
“Hahaha.. gitu, dong, ketawa. Kan manis!”
“Apaan coba?” ucap Nadya malu-malu. “Latihan ngegombal, kan? Dasar! Loe kan nggak pernah muji-muji kayak gitu!”
“Tau aja, deh. Pulang, yuk. Keburu malem, ntar.” Ajakan itu dijawab oleh Nadya dengan anggukkan.
***
 “Jadi loe punya ide apa, Nad?” tanya Aryo saat mereka sedang makan siang di foodcourt si sebuah mall. Nadya menghentikan kegiatan makannya. “Loe kan udah liat orangnya, nah, cara nembaknya enaknya kayak gimana?”
Nadya terlihat berpikir, ia memang sudah rela membantu Aryo jadian dengan cewek yang beberapa menit lalu ia lihat. Mereka memang tak sengaja bertemu di toko buku. Melihat gadis bernama Nana itu, Nadya merasa Aryo cocok dengan gadis itu. ia manis, ceria. Tak salah kalau Aryo memilih gadis itu.
“Gimana kalo pakai kertas. Jadi kertas pertama ada tulisan, ‘Hai Nana?’. Nah, setelah dia baca kata itu, kamu tunjukkin kertas lainnya yang isinya satu atau dua kata, dan seterusnya.” Aryo masih bingung dengan penjelasan Nadya. “Gini, deh. Udah pernah liat video klip ‘Number One For Me’-nya Maher Zain, kan?” Aryo mengangguk membenarkan. “Kayak gitu maksud gue.” Aryo pun mengangguk mengerti.
“Karena besok hari ulang tahunnya, kita mulai sore ini. tapi masa Cuma itu doang? Maksudku, masa nggak ada tambahan, gitu?”
“Ya apa, Yo?  Gue nggak ngerti. Kan loe yang lebih tahu dia kayak gimana. Loe lebih tahu dia dari pada gue.” Ucap Nadya sambil menyerut es tehnya hingga habis tak tersisa. “Gini deh, waktu loe nunjukkin kertas-kertas itu, ada lagu kesukaannya dia yang jadi backsound. Tapi lagunya yang pas.”
“Oke, kini beberapa lagu kesukaan dia. Semuanya ada di sini. Tolong pilihin, ya?” Nadya langsung tercengang melihat jajaran lagu yang ada di handphone milik Aryo. Lagu-lagu tersebut terdapat dalam sebuah folder berjudul “Her Favorite Songs”. Yang membuat Nadya semakin tercengang ialah, bahwa semua lagu kesukaan Nana juga merupakan lagu kesukaannya.
“Apa-apaan coba? Kok sama gini?” tanya Nadya dalam hati. “Menurut gue nggak ada yang cocok. Jadi, mendingan nggak usah aja.” Kerut tertampang jelas di kening Aryo. “Karena apa? Karena kalau aku pikir lagi, lebih so sweet kalo kayak gitu.”

Puisi Untuk Dia - Part 2

“Ada surat buat loe, nih.” Nadya menyodorkan amplop pink dengan tangan kanannya pada Aryo yang sedang tiduran di rerumputan taman yang ada di perumahannya.
            Aryo membuka matanya setelah mendengar suara itu. Dilihatnya Nadya berdiri di kanannya dengan senyum yang merekah. Ekspresi kebingungan jelas terlihat di wajah Aryo. Ia pun bangkit dari tempat ia berbaring dan menerima surat yang dibawakan oleh Nadya.
            “Dari loe, ya? Tapi kok pake surat, sih? Pink lagi. Surat cinta, ya?” Tanya Aryo sambil memperhatikan surat yang ia pegang setelah Nadya duduk di sampingnya.
“Yee.. Sok tahu, kamu. Tadi ada yang titip.”
            “Siapa?”
“Rahasia..,” ucap Nadya sambil menyunggingkan senyuman manis. Aryo hanya mendengus pelan dan membuka amplop surat tersebut. “Eits, jangan dibuka di sini.”
“Kenapa?”
“Ya, itu kan privasi. Nggak lucu kan, kalo gue liat surat orang lain?”
“Apa kata loe, deh.” Aryo pun memasukkan amplop tersebut ke dalam saku celana pendek hitamnya. “Gimana Bagas, ya, Nad?” tanya Aryo kemudian. Mendengar kalimat itu, raut wajah Nadya berubah sedih. Sudah 3 bulan Bagas pergi untuk selamanya dari hidup mereka. Ia adalah sahabat yang sangat ceria. Selalu membuat keduanya tertawa.
“Nggak tahu, Yo.” ucap Nadya sedih sambil menundukkan kepalanya. “Yaah, jadi sedih, kan?” tambah Nadya sambil memukul lengan kanan Aryo dengan perlahan.
“Yaah, malah mewek nih anak. Udahlah, dia pergi juga nggak jauh-jauh banget. Kita juga masih bisa menghubungi dia,” Ucap Aryo setelah melihat Nadya menyeka air matanya dengan kedua tangannya “Tapi aku kok disuruh njagain cewek cengeng kayak loe... Adududuh. Kok nyubit, sih?”
“Abis..”
“Kenapa? Nggak terima kalo gue bilang kayak tadi? Iya? Kenapa marah, itu kan kenyataan. Dari kecil aja kamu suka nangis kalau gue sama Bima ninggalin kamu bentar. Dasar cengeng, penakut, sukanya mukul sama nyu.. ADOOH!”
“Bisa nggak, sih, Yo, kamu nggak ngejek gue sekaliiii aja?” tanya Nadya dengan tampang memelas.
“Nggak. Nggak bisa!” kalimat itu keluar dengan diiringi senyuman jahil yang terlukis jelas di bibir Aryo, yang kemudian senyuman itu berubah menjadi tawa karena Nadya memasang tampang bete.
***
Cinta
Apakah kau tahu Cinta, apakah arti cinta?
Apakah kau mengerti Cinta, bagaimana ada cinta?
Cinta, apakah rasa di hati ini cinta?
      Cinta
      Menatapmu seperti menemui fatamorgana di gurun pasir
      Melihat senyummu bagai satu bintang di malam kelamku
      Mendengar tawamu bak lagu merdu yang indahkan hariku
Kau tahu, Cinta?
Raga ini terpaku melihatmu
Lidah ini kelu tuk berucap sepatah kata padamu
Lutut ini kaku tuk berdiri di hadapmu

            Aryo terpaku pada secarik kertas yang ia pegang. Kertas putih yang berisi berbaris-baris kalimat yang diketik. Bukan tulisan tangan. Ditambah lagi dengan gambar bintang yang dibuat dengan pulpen hijau. Senyuman semakin tak lepas dari bibir Aryo. Sudah sedari sore hingga tengah malam, ia membaca barisan kalimat-kalimat itu.
***
“Nadya!” seseorang menyerukan nama Nadya dengan keras. Sang pemilik nama pun menengokkan kepalanya ke sumber suara. Terlihat Aryo tengah duduk di atas Vixion hitamnya. Bukan hanya Nadya yang menengokkan kepalanya, tetapi hampir semua orang yang ada di halaman sekolah. Memang tidak ramai dan hanya terdiri dari teman-teman sekelas Nadya. Termasuk Wisnu, yang sekarang tengah menatap Nadya.
“Cie, Nadya. Siapa tuh?” tanya Mona, salah satu teman sekelas Nadya, mewakili beberapa temannya yang lain.
“Bukan siapa-siapa. Cuma temen.” Jawab Nadya salah tingkah.
“Temen kok sumringah gitu, sih, waktu ngeliatin dia?” teman yang lain menimpali, membuat Nadya gerah. Apalagi Wisnu tengah menatapnya dengan tajam. Menurut Wisnu, dugaannya selama ini benar adanya, kalau mereka berdua memiliki hubungan yang lebih dari sekedar sahabat dari masa kanak-kanak. Keduanya sangat memperlihatkan itu.
“Temen. Nggak percayaan amat, sih? Duluan, ya?” tanpa menunggu jawaban dari teman-temannya, Nadya sudah berlalu menuju tempat Aryo berada. “Loe kok manggil kenapa teriak, sih? Kenapa nggak ngidupin klakson, gitu?” tanya Nadya kemudian setelah duduk manis di atas motor Arya yang kemudian motor itu berlalu.
“Yee. Yang dari tadi nggak ngidupin klaskson siapa, neng? Udah berkali-kali gue mejet-mejet nih tombol, loenya tetep aja nggak denger! Bukannya bilang makasih udah dapet tumpangan pulang-pergi gratis, malah dapet omelan.” Jawab Aryo dengan juteknya.
“Ya maaf, Yo.”
“Enak banget, ya, bilang maaf??”
“Terus loe maunya apaan? Kayak anak kecil aja, deh.” tanya itu dijawab dengan berhentinya motor yang tengah berjalan itu di tepi jalan. “Kenapa, Yo?” tanya Nadya setelah turun dari motor Aryo.
Aryo melepas helmnya, menaruhnya di kaca spion, kemudian ia turun dari motornya. Berdiri tepat di depan Nadya yang menatap Aryo dengan bingung. Aryo pun diam sebentar, seperti tengah memastikan sesuatu. “Bantuin gue, ya?”
“Minta bantuan masalah apa?” tanya Nadya heran. Nadya merasa heran melihat Aryo yang tiba-tiba meminta bantuannya, karena setahunya Aryo selama ini sulit untuk meminta bantuan kepada Nadya.
“Gue kan lagi suka sama cewek...,” kalimat pengantar itu membekukan Nadya di tempatnya. Melalui kata pengantar itu, Nadya sudah mengetahui arah pembicaraan ini “Dan deket-deket ini dia mau ulang tahun. Gue sudah ada niatan buat nembak dia waktu dia ultah,” Nadya tak sanggup untuk mendengar kelanjutannya. Dadanya semakin lama semakin sesak. Gadis itu sebentar lagi ulang tahun. Dirinya juga sebentar lagi ulang tahun. apakah Aryo tidak mengingatnya? “Loe mau, kan, Nad, bantuin loe nyari sesuatu buat dia? Loe tahu sendiri, kan, kalo gue buta masalah cewek?” Nadya terdiam. Tertunduk dan terdiam. Sakit ini baru kali ini ia rasakan. Dulu ia tak secemburu ini saat bersama Wisnu. Ini sangat sakit untuknya.
Sebagian hatinya membujuk Nadya untuk membantu Aryo. Aryo sudah membantu Nadya sedari dulu. Sejak kecil! Aryo selalu ada saat Nadya butuh. Selalu membuatnya tertawa saat ia menitikan air mata. Ini saatnya membantu Aryo.
“Makasih, Nad,” Kalimat itu tercurah setelah Nadya menganggukan kepalanya dengan perlahan. Tanpa sadar, Aryo merengkuh Nadya ke dalam pelukannya. Aryo yang lebih tinggi dari Nadya, membuat kepala Nadya berada di dada Aryo. Pelukan itu sangat hangat bagi Nadya. Saat Nadya ingin membalas pelukan Aryo, Aryo terlebih dahulu melepaskan pelukkannya. “Pulang, yuk?” ajak Aryo kemudian. Nadya hanya dapat menjawab dengan anggukan kepala dan senyuman tipis yang terukir di bibirnya.

Cerbung : Apakah Ini - Part 3

Kantin SMA Bangsa hampir dipenuhi oleh seluruh warga sekolah. Suara orang berbincang terdengar saliing bersautan. Pada istirahat pertama hari ini Dion dan Nadia tengah menyantap makan meraka ditengah-tengah tour dadakan mengelilingi sekolah yang cukup luas ini.
"Gue nggak nyangka, ya, bisa ketemu loe lagi. Tiga hari berturut-turut, kebetulan pula." kalimat yang diutarakan Nadia mengalihkan perhatian Dion dari bakso yang sedang ia makan.
"Iya juga ya? Gue baru sadar  kalau kita kayak begitu."
Pagi ini memang pertemuan mereka yang ketiga. Kemarin Dion dan Nadia bertemu lagi di toko buku. Saat itu toko buku sedang ramai. Dion tanpa sengaja menyenggol bahu kanan Nadia yang tengah membawa buku yang lumayan banyak. Tak ayal, sebagian buku Nadia terjatuh dari genggamannya. Dion langsung membungkuk dan membantu Nadia merapikan bukunya yang tersebar kemana-mana sembari berkali-kali mengucapkan kata maaf. Ketika Dion menyerahkan buku yang diambilnya dan menatap orang yang ia tabrak, ia langsung terkaget-kaget. Begitu pula dengan Nadia.
"Oh ya, istirahat ke dua loe mau tour lagi apa gimana?"
"Nggak aja deh, Yon. Gue mau kenalan sama anak-anak dulu, kan baru beberapa anak yang gue kenal. Thanks ya" sebuah senyuman tak lupa diberikan oleh Nadia.
Dion terpaku. Ia kemudian berusaha mengendalikan dirinya. "Nggak masalah."
 
***

"Cie yang udah dapet sekolah baru. Gimana sekolah baru loe?" tanya itu terdengar oleh Nadia yang tengah mengerjakan tugas rumah pertamanya sebagai siswa SMA Bangsa. Nadia pun mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara.
"Apaan sih loe? Ganggu gue aja, deh. Pergi sana!" Nadia langsung mengusir secara verbal sosok yang kini tengah duduk di tepi ranjang miliknya.
"Astaga, gitu banget sih loe sama sepupu. Gue sempet-sempetin ke sini dari rumah gue yang ada di ujung sana buat nanyain gimana sekolah sepupu gue yang cantik ini--"
"Lebay loe! Kalo nggak ada hal penting, mending loe keluar aja deh. PR gue numpuk!" Nadia bangkit dari kursi belajarnya lalu mendorong cowok itu keluar dari kamarnya.
"Nad, loe masih marah karna gue nggak nemenin loe di sekolah tadi?" tanya cowok itu sebelum Nadia menutup pintu kamarnya.
"Nggak. Ngapin juga gue marah sama loe gara-gara hal begituan."
 "Terus kenapa loe marah-marah gitu?"
"Gue kan tadi udah bilang sama loe Ardan Wijaya yang cakep, yang pinter. Gue lagi bikin PR. Jangan ganggu gue! Oke?" dengan gerakan cepat Nadia menutup pntu kamarnya dan berjalan menghampiri meja belajar miliknya yang terletak di dekat tempat tidurnya.
"Yaudah, gue tunggu dibawah. Ada yang perlu gue omongin sama loe" terdengar suara Ardan dari balik pintu. "Oh ya, thanks karna loe udah pilang gue cakep dan pinter. Akhirnya loe sadar juga."
"ARDAAAAN!!"

"Jadi apa yang mau loe omongin sama gue?" tanya Nadia pada Ardan yang asyik menonton tv di ruang keluarga. Nada dongkol masih terdengar dari suaranya.
"Oke, gue minta loe jangan deket-deket sama yang namanya Dion."
Mendengar itu, Nadia merasa tak suka. Matanya lansung membulat. Ia dalam hati bertanya-tanya, kenapa dia harus menghindari cowok bernama Dion itu.
"Karena dia itu playboy paling ngeselin se-Indonesia." Ardan langsung menjelaskan alasannya. Seakan bisa membaca pikiran Nadia. Mendengar alasan itu, Nadia hanya ternganga.
"Jadi pada intinya gue nggak boleh deket-deket sama dia karna dia itu playboy?" Ardan mengangguk pasti. Wajahnya serius. Tetapi malah seperti anak SD yang lagi ngibulin temennya.
"Loe kok lebay banget, sih, hari ini? Kayak anak kecil loe!" Nadia mengucapkan kaimat tersebut di sela tawanya. ia tertawa karena mimik lucu yang dibuat oleh sepupunya ini.
"Nah, gitu dong. Ketawa.Kan gue enak liatnya."
"Tapi alpa itu bener? Apa Dion itu playboy?" kali ini tawa sudah lenyap dari Nadia. Ia bertanya dengan nada serius, sedang yang ditanya hanya menggedikkan bahu.
"Gue nggak ngerti"
"Kayaknya nggak deh. Ge liat-liat, dia baik-baik aja. Nggak keliatan kayak playboy, tuh. Dia baik sama gue. Mau nganterin gue keliling sekolah."
"Nggak tau juga. Itu rumor yang gue denger, sih. Tapi sebaiknya loe hati-hati aja kalo nggak mau sakit hati. Lagi."
Pernyataan Ardan menyentakkan Nadia. Pandangannya yang sedari tadi menghadap televisi, kini menjadi ke arah Ardan yang berada di kirinya. Dalam hati ia mengulang kalimat Ardan. Tapi sebaiknya loe hati-hati aja kalau nggak mau sakit hati. Lagi.

Bersambung

Oke, sorry kalau kalimat-kalimatnya agak nggak jelas atau mungkin emang nggak jelas. Semoga kalian suka :)

Senin, 15 April 2013

Cerbung : Apakah Ini - Part 2

Informasi sebelum posting cerbung ini. Aku juga memostingkan cerbung ini ke alamat blogku yang lain. Semoga kalian sukaa.

Dion mengambil komik Detective Conan di laci mejanya. Komik detektif tersebut baru kemarin ia beli setelah kelas les yang melelahkan. Dibukanya segel plastik bening penutup komik itu perlahan. Semalam ia memang belum membuka komik ini karena ia langsung terlelap di atas ranjangnya.
 Aroma buku baru langsung menyatu dengan oksigen yang ia hirup saat ia mulai membuka lembar demi lembar komik tersebut. Tidak diperdulikannya Bu Mayang, guru Kimia yang tengah mengajar di kelasnya. Kali ini ia sedang tidak bersemangat dengan pelajaran yang berlangsung pada jam pertama ini.
Ketukan pintu terdengar di sela-sela suara Bu Mayang yang tengah mengajarkan materi Termokimia. Merasa terganggu beliau dengan cepat melangkahkan kakinya menuju pintu kelas yang tertutup rapat. Dibukanya pintu berwarna abu-abu itu dengan pelan. Setelah mengetahui siapa orang yang mengganggu kegiatannya menerangkan materi, Bu Mayang berbincang sebentar dengannya.
Ketika Bu Mayang kembali berdiri di depan kelas, seorang gadis yang berbaju sama dengan siswa-siswi yang duduk tersebar di seluruh penjuru kelas XI IPA 3, memasuki kelas denga malu-malu.
Mata bulat milik gadis itu menyapu ke seluruh penjuru kelas. Rambut hitam panjangnya yang terurai rapi tanpa hiasan itu bergerak pelan saat ia menghampiri Bu Mayang yang kini tengah menatapnya.
"Anak-anak mohon perhatian sebentar" seru Bu Mayang untuk menenangkan murid-muridnya yang langsung menjadi gaduh sejak siswi baru ini memasuki ruang kelas. Terutama para siswanya. "Mulai hari ini anggota kelas kalian akan bertambah satu siswi."
Lalu matanya beralih pada gadis yang kini berdiri di samping kirinya. "Perkenalkan dirimu."
"Nama saya Nadia" gadis itu berhenti sejenak untuk mengambil napas. "Saya pindahan dari Bogor. Semoga kita dapat berteman dengan baik." tambahnya sambil tersenyum. Riuh suara pun terdengar dari para siswa yang duduk di dua baris terbelakang.
Kembali gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kelas. Matanya membulat saat ia mendapati sosok yang tengah duduk tertunduk di tempat duduknya Sosok itu terlihat tak peduli. Fokus matanya hanya ada di tangannya.
"Nadia, silahkan duduk di bangkumu" suara Bu Mayang mengalihkan fokus mata Nadia, kini ia menatap guru tersebut. "Kamu bisa duduk di sebelah Dion." tambah beliau sembari menunjuk sosok yang tadi mengusik Nadia.
"Yah, kok Dion sih, bu? Kenapa nggak sama saya saja?" suara itu terucap dari bibir Bagas.
"Astaga Bagas, mana mungkin ibu menyuruh Nadia duduk di sebelah kamu kalau bangku yang ada di sampingmu itu diduduki Tio."
"Yo, pergi loe sana. Duduk disebelah Dion, gih." kini Bagas menatap Tio yang duduk di kanannya.
"Lah, kok jadi gue yang disuruh pindah? Loe gimana sih?"
"Gue kan mau duduk semeja sama--"
"Sudah" seruan Bu Mayang itu menghentika adu mulut Bagas dan Tio yang baru dimulai. "Nadia, kamu silahkan duduk. Kita lanjutkan pelajarannya." Nadia hanya meangangguk dan menghampiri Dion yang duduk di sayap kanan kelas.
"Hai, gue boleh duduk di sini kan?" tanya Nadia untuk mengalihkan pandangan Dion dari komiknya.
Merasa dirinya terusik, Dion mengalihkan pandangannya menuju sumber suara yang berada di kirinya. Dan betapa terkejutnya Dion karna mengetahui siapa yang ada di hadapannya. "Loe?"
"Hai Dion, senang bertemu lagi."

Bersambung

Say HAI

Assalamualaikum. Welcome to My Blog
Jujur ini adalah blog ke 3 yang aku punya. Niat banget ya, punya 3 blog? Tapi blog pertama yang aku punya sudah hangus. Kalau yang ke 2, masih hidup kok.
Kalau mau mampir ke blog yang satunya, kalian bisa ke aniskurniar.wordpress.com
Cukup ya, salam-salamnya. Selamat menikmati.
Wassalamualaikum.