Selasa, 16 April 2013

Puisi Untuk Dia - Part 3

Langit malam semakin mengelam
Gemuruh guntur membuat malam semakin mencekam
Rintik hujan menghujam tubuh yang berdiri mematung
Bagaikan sebilah pedang yang tertancap kuat di dalam jantung
      Suara itu berucap pelan dan lembut
      Namun terlihat seperti kabut
      Membuatku tak mempu tuk melihat jauh
      Membuat tubuh berdiri dingin dan kukuh
Hati sakit dan menangis pilu
Tatapan ini berubah sendu
Elegi mengalun merdu di dalam kalbu
Namun rasa tetap hanya padamu
      Nadya menatap lembaran yang ada di tangannya. Ia menyadari sesuatu, bahwa ia kini tak lagi menyendiri lalu beruraian air mata seperti dulu saat ia sedang merasa hatinya tak enak. Kali ini ia memang menyendiri, namun tak menangis melainkan menyusun berbagai kata menjadi barisan kalimat yang indah .
      “Heh, anak galau!” kalimat itu langsung membuat Nadya bergerak untuk menutup bukunya lalu mendekap buku itu. Dilihatnya Aryo yang kini duduk di kanannya dengan pakaian rapi. Tampak terlihat bahwa ia ingin pergi. “Loe kenapa, sih? Kok gitu banget?” Nadya hanya menggeleng kuat. “Dari pada kayak begini, temenin gue cari kado, deh.” Nadya langsung mendelik mendengarnya. Diam. Nadya hanya mampu menatap Aryo. Aryo menunggu jawaban Nadya dengan menatap Nadya juga. Karena Nadya tak menjawab, Aryo langsung meraih tangan kanan Nadya. Menarik Nadya berdiri dari duduknya dan berjalan menuju rumah Nadya. Di depan gerbang rumah Nadya pun sudah terparkir motor Aryo di sana.
            “Ganti, sana. Supaya nggak malu-maluin! Sana!” ucap Aryo setelah melepaskan genggamannya dari tangan Nadya.
            “Tapi, Yo.”
            “Nggak ada tapi-tapian. Gue udah ijin sama mama loe. Sana masuk!” Nadya langsung masuk ke dalam rumahnya yang rimbun oleh pepohonan. Taman kecil yang ada di halaman pun tertata rapi. Beberapa saat kemudian, Nadya keluar dari rumahnya. Celana pendek yang tadi ia pakai sudah berganti dengan celana panjang jeans yang berwarna hitam.
            “Oh ya, Yo. Tuh cewek yang mau kamu beliin kado cewek yang nulis surat buat kamu ya?” tanya Nadya sambil mengenakan helm miliknya.
“Hah? Bukan, kok.” Mendengar itu, Nadya hanya ber”oh” ria.
Sesampainya di tempat yang dituju oleh Aryo, yang merupakan toko aksesoris, Nadya langsung menuju tempat yang menyediakan gelang. Matanya langsung tertuju pada sebuah gelang perak yang terdapat huruf “N” di tengahnya, yang setiap ujungnya akan membentuk lingkaran.
“Bagus, ya, Yo?” tanya Nadya pada Aryo yang kini sedang ada di samping kanannya. Aryo meraih gelang yang ada di tangan Nadya. mengamatinya sejenak.
“Bagus. Gue ambil ini, deh.”
“Lha, kok?”
“Liat. Di sini kan ada huruf “N”-nya. Desainnya bagus tapi tetap sederhana. Sesuai sama dia.”
“Terus apa hubungannya sama “N”-nya? Nama loe kan nggak ada huruf “N”-nya.”
“Nama tuh cewek, Nadya. Namanya Nana. Ada huruf “N”-nya, kan? Dua malah.” Mendengar  penjelasan Aryo, Nadya hanya menganggukkan kepalanya. Dilihatnya punggung Aryo yang menjauh menuju kassa toko asesoris tersebut. Senyuman tak lepas dari bibirnya yang terlalu merah untuk ukuran seorang cowok. Tubuhnya yang tinggi menjulang berdiri santai di depan kassa sambil mengedarkan pandangannya di seluruh penjuruh toko itu.
Setelah Aryo dan Nadya membeli gelang tersebut, mereka berdua menuju restaurant cepat saji yang ada di lantai bawah mall tersebut. Mereka tidak makan besar di restaurant tersebut, dan mereka hanya membeli makanan kecil yang disediakan oleh restaurant tersebut.
Selama mereka makan, Nadya tak pernah menatap Aryo yang sedang duduk di hadapannya. Nadya hanya memperhatikan orang-orang yang lewat di eskalator yamg memang dekat dengan ia duduk saat ini. tak diacuhkannya Aryo yang memanggilinya sedari tadi. Sebenarnya ia mendengar dan tahu jika Aryo sedari tadi memanggilnya. Hanya saja, ia sedang tak ingin berbicara dan memandang Aryo.
“Loe kenapa, sih, Nad? Patah hati, ya?” tanya Aryo pada akhirnya. Tanya itu langsung dijawab oleh Nadya dengan anggukkan. “Lho? Patah hati gara-gara siapa? Wisnu lagi?”
“Ini nggak ada hubungannya sama Wisnu, Yo.” jawab Nadya sambil memandang Aryo.
“Terus? Apaan, dong, kalo bukan?”
“Haa..gue belum siap cerita.” Ucap Nadya sambil menunduk lesu.
“Udah, nggak papa. Santai aja. Oh ya, boleh tahu, nggak, siapa yang ngasih surat ke gue dulu?” mendengar pertanyaan itu, nadya kembali memandang Aryo.
“Emang kenapa, Yo?” tanya Nadya heran.
“Ya, tolong bilangin ke dia. Gue suka suratnya. Makasih, udah buat surat itu buat gue. Baru pertama kali, gue dapet surat dari pengagum rahasia.” Ucap Aryo dengan senyum jahil khasnya.
“Idiih!! Pede banget, sih? Ckckck.. gue heran, deh, apaan coba yang ada sama loe sampai-sampai bikin cewek itu suka sama loe?”
“Aku kan cakep, Nad.”
“Yaah.. ketularan siapa loe, sampe bisa narsis banget gini?.”
“Hahaha.. gitu, dong, ketawa. Kan manis!”
“Apaan coba?” ucap Nadya malu-malu. “Latihan ngegombal, kan? Dasar! Loe kan nggak pernah muji-muji kayak gitu!”
“Tau aja, deh. Pulang, yuk. Keburu malem, ntar.” Ajakan itu dijawab oleh Nadya dengan anggukkan.
***
 “Jadi loe punya ide apa, Nad?” tanya Aryo saat mereka sedang makan siang di foodcourt si sebuah mall. Nadya menghentikan kegiatan makannya. “Loe kan udah liat orangnya, nah, cara nembaknya enaknya kayak gimana?”
Nadya terlihat berpikir, ia memang sudah rela membantu Aryo jadian dengan cewek yang beberapa menit lalu ia lihat. Mereka memang tak sengaja bertemu di toko buku. Melihat gadis bernama Nana itu, Nadya merasa Aryo cocok dengan gadis itu. ia manis, ceria. Tak salah kalau Aryo memilih gadis itu.
“Gimana kalo pakai kertas. Jadi kertas pertama ada tulisan, ‘Hai Nana?’. Nah, setelah dia baca kata itu, kamu tunjukkin kertas lainnya yang isinya satu atau dua kata, dan seterusnya.” Aryo masih bingung dengan penjelasan Nadya. “Gini, deh. Udah pernah liat video klip ‘Number One For Me’-nya Maher Zain, kan?” Aryo mengangguk membenarkan. “Kayak gitu maksud gue.” Aryo pun mengangguk mengerti.
“Karena besok hari ulang tahunnya, kita mulai sore ini. tapi masa Cuma itu doang? Maksudku, masa nggak ada tambahan, gitu?”
“Ya apa, Yo?  Gue nggak ngerti. Kan loe yang lebih tahu dia kayak gimana. Loe lebih tahu dia dari pada gue.” Ucap Nadya sambil menyerut es tehnya hingga habis tak tersisa. “Gini deh, waktu loe nunjukkin kertas-kertas itu, ada lagu kesukaannya dia yang jadi backsound. Tapi lagunya yang pas.”
“Oke, kini beberapa lagu kesukaan dia. Semuanya ada di sini. Tolong pilihin, ya?” Nadya langsung tercengang melihat jajaran lagu yang ada di handphone milik Aryo. Lagu-lagu tersebut terdapat dalam sebuah folder berjudul “Her Favorite Songs”. Yang membuat Nadya semakin tercengang ialah, bahwa semua lagu kesukaan Nana juga merupakan lagu kesukaannya.
“Apa-apaan coba? Kok sama gini?” tanya Nadya dalam hati. “Menurut gue nggak ada yang cocok. Jadi, mendingan nggak usah aja.” Kerut tertampang jelas di kening Aryo. “Karena apa? Karena kalau aku pikir lagi, lebih so sweet kalo kayak gitu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar