Selasa, 16 April 2013

Puisi Untuk Dia - Part 4

Sepanjang hari ini banyak sekali yang mengucapkan “Selamat Ulang Tahun” pada Nadya. Termasuk Wisnu. Bahkan Bundanya pun menyiapkan makanan kesukaan Nadya secara khusus di ulang tahunnya yang ke 17. Tidak ada pesta ulang tahun. merayakan ulang tahun memang bukan suatu kebiasaan bagi Nadya. Nadya dan sekeluarga lebih suka pada hari ulang tahun itu, berbagi rezeki pada orang yang kurang mampu.
jam menunjukkan pukul 4 sore dan Nadya beserta teman sekelompoknya belum selesai mengerjakan tugas mereka. Sesekali Nadya menengok handphonenya yang tergeletak di atas meja. Tak ada satu pun sms dari Aryo. Tak ada ucapan selamat ulang tahun dari Aryo. Nadya tahu, pasti Aryo sedang sibuk dengan acaranya. Tapi apakah hanya mengirimi sms tak sempat? Rasa kecewa peerlahan menerpa pada diri Nadya.
Ika yang melihatnya hanya dapat menggelengkan kepalanya. Nadya sudah cerita semuanya. “Nad, ayo, dong. Kita selesaikan sekarang. Jangan liat handphone muluk.”, ucap Ika entah yang keberapa kalinya.
“DRREET... DRREET... DRREET...” handphone milik Nadya bergetar. Ada sebuah telepon masuk. Langsung saja Nadya meraih handphonenya dan mengangkat telepon dari Aryo tersebut. Berjalan menjauh dari kedua temannya.
“Nad, loe di mana?”
“Di sekolah. Emang kenapa, Yo? terus, gimana acaramu tadi? Sukses, kah?”
“Kamu di kelas, kan?” Aryo tidak menjawab, namun malah bertanya lagi pada Nadya.
“Iya. Emang kenapa, sih, Yo?”
“Loe keluar kelas, deh.”
Dengan kebingungan yang amat sangat dan kening yang penuh kerutan, Nadya melangkah keluar kelasnya. Langit yang cerah menyambut Nadya yang keluar dari kelasnya yang ada di lantai dua. Kembali ia melangkah menuju tembok pembatas. Diedarkannya penglihatannya kemanapun. “Udah. Terus, ngapain coba?”, tanya Nadya kemudian.
“Lihat ke bawah.”
Ketika Nadya menengok ke bawah, ia menemukan sesuatu yang tak ia sangka. Aryo tengah berdiri dengan memegang lembaran kertas. Tangan kanannya juga memegang handphone miliknya. Nadya pun membaca tulisan yang tertera di sana.
Hai, Nadya?
Aryo kemudian menarik lembar pertama itu yang lalu ia selipakan di bagian paling belakang. Aryo terus seperti itu, dan Nadya tetap membaca setiap kata yang tertuliskan di kertas itu.
Aku di sini mau bilang makasih
Makasih udah jadi sahabat yang baik
Makasih atas ide-idemu
Makasih atas kesabaranmu
Makasih untuk semuanya :D
Senyum terukir di bibir Nadya. Nadya berfikir jika Aryo sudah berhasil mengungkapkan isi hatinya. Ia senang. Tapi sebagian hatinya runtuh.
Dan...
Makasih karna udah mengisi hati dan hariku...
Mata Nadya terbelalak maksimal. Ia tak mengerti dan tak yakin dengan kalimat yang baru saja ia baca. Kembali ia membaca kalimat tersebut. Apakah ia bisa berharap bahwa itu kenyataan?
Aku jujur nadya.
Kau ada di hatiku...
Tanpa aba-aba, Nadya langsung berlari menuju tangga. Menuruni undakkan yang tersusun rapi itu dengan gerakan cepat. Takut Aryo cepat pergi. Di tepi lapangan ini, Nadya melihat Aryo yang berdiri di tengah lapangan dengan kedua tangan masih memegang lembaran kertas dan senyum yang merekah. Kali ini, kertas yang paling depan sudah berganti kalimat.
Kenapa kamu nangis?
Setelah membaca itu, Nadya langsung berlari menuju tempat dimana Aryo berdiri. Dipukulnya lengan kanan Aryo dengan keras yang membuat Aryo mengerang kesakitan.
“Heh, cengeng. Apa-apaan, sih?” tanya Aryo sambil mengelus lengan kanannya.
“Loe itu yang apa-apaan? Bercandanya itu nggak lucu! Kalo mau nembak Nana, ya udah ke sana. Kenapa loe malah ke sini, hah?”
Dengan diam Aryo meraih ranselnya. Dimasukkan lembaran kertas itu ke dalam ransel olehnya. Ketika tangan kanan Aryo keluar dari ransel itu, ia membawa sebuah kotak. Aryo membuka kotak itu an mengambil isinya. Ditariknya tangan kiri Nadya lalu tangan tersebut dimasukkan kedalam lubang perak yang manis itu.
Nadya menutup mulutnya saat mengetahui apa yang Aryo kenakan pada tangan kirinya. Gelang itu! Kembali tanpa perintah, Nadya memeluk Aryo erat.
***
            Matahari senja bersinar terang di ufuk barat. Mempersilahkan kepada gelapnya malam untuk menampakkan kerlipan bintang yang berjuta-juta.
            “Gue boleh tanya sesuatu?” tanya Nadya tanpa mengalihkan fokus matanya dari sinar matahari tenggelam.
            “Tanya apaan emang?”
            “Ehm..” Nadya tertunduk. Ia ragu untuk menanyakan hal ini. Tapi jika ia tak bertanya, ia takkan tahu apa jawabannya. “Loe bener kemarin emang nggak nembak Nana? Emang loe nggak suka sama dia?”
            Mendengar itu Aryo mengerutkan keningnya. “Emang loe mau gue nembak dia?”
“Bukan gitu,” dengan cepat ia mengalihkan fokus matanya pada sosok yang kini duduk di kanannya. “Maksud gue itu—“
“Iya, gue ngerti maksud loe. “ sela Aryo. “Loe mau tau jawabannya?” kembali pandangan Aryo berpindah pada Nadya. Ia menatap Nadya dengan dalam, membuat Nadya hanya mampu menganggukkan kepalanya.
“Gue sebenernya bohong kalo gue suka sama Nana. Asal loe tahu aja, dia itu udah punya cowok. Jadi loe tau kan alasan gue nggak nembak dia? Karna gue emang nggak suka sama dia,” Aryo tidak menyelesaikan penjelasannya. Ia malah kembali menatap mata bulat Nadya. Perlahan tangan kiri mengelus kepala Nadya. “Karna cewek yang gue suka, yang gue sayangi itu loe, Nad.” Kembali Nadya terjebak dalam bening mata di hadapannnya ini.
            “Nih, buat kamu,” kata Aryo  mengalihkan perhatian. Ia memberikan sebuah kertas yang terlipat rapi pada Nadya. nadya menerima dengan pandangan heran. “Buka aja.” Nadya membuka lipatan itu perlahan. Ketika ia tahu apa isinya, matanya terbelalak.
            “Puisi?”
            “Iya. Puisi. Dari penggemarku, kan? Atau, aku bisa manggil dia Nadya.”
            “Dari mana kamu..?”
            “Heh, cengeng. Jelas aku tahu, lah. Orang ada tandanya kalo yang buat itu kamu.” Ucap Aryo sambil menunjukkan tanda bintang di kertas itu.
            Nadya hanya tersenyum menampakkan giginya yang rapi. Malu sendiri pada cowok yang duduk di kanannya.
            “Dasar, sembrono!” ucap Aryo sambil mengacak-acak rambut Nadya.
-END-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar