Sepanjang hari ini banyak sekali yang mengucapkan “Selamat Ulang
Tahun” pada Nadya. Termasuk Wisnu. Bahkan Bundanya pun menyiapkan makanan
kesukaan Nadya secara khusus di ulang tahunnya yang ke 17. Tidak ada pesta
ulang tahun. merayakan ulang tahun memang bukan suatu kebiasaan bagi Nadya.
Nadya dan sekeluarga lebih suka pada hari ulang tahun itu, berbagi rezeki pada
orang yang kurang mampu.
jam menunjukkan pukul 4 sore dan Nadya beserta teman sekelompoknya
belum selesai mengerjakan tugas mereka. Sesekali Nadya menengok handphonenya yang tergeletak di atas
meja. Tak ada satu pun sms dari Aryo. Tak ada ucapan selamat ulang tahun dari
Aryo. Nadya tahu, pasti Aryo sedang sibuk dengan acaranya. Tapi apakah hanya
mengirimi sms tak sempat? Rasa kecewa peerlahan menerpa pada diri Nadya.
Ika yang melihatnya hanya dapat menggelengkan kepalanya. Nadya
sudah cerita semuanya. “Nad, ayo, dong. Kita selesaikan sekarang. Jangan liat handphone muluk.”, ucap Ika entah yang
keberapa kalinya.
“DRREET... DRREET... DRREET...” handphone milik Nadya bergetar.
Ada sebuah telepon masuk. Langsung saja Nadya meraih handphonenya dan mengangkat telepon dari Aryo tersebut. Berjalan
menjauh dari kedua temannya.
“Nad, loe di mana?”
“Di sekolah. Emang kenapa, Yo? terus, gimana acaramu tadi? Sukses,
kah?”
“Kamu di kelas, kan?” Aryo tidak menjawab, namun malah bertanya
lagi pada Nadya.
“Iya. Emang kenapa, sih, Yo?”
“Loe keluar kelas, deh.”
Dengan kebingungan yang amat sangat dan kening yang penuh kerutan,
Nadya melangkah keluar kelasnya. Langit yang cerah menyambut Nadya yang keluar
dari kelasnya yang ada di lantai dua. Kembali ia melangkah menuju tembok
pembatas. Diedarkannya penglihatannya kemanapun. “Udah. Terus, ngapain coba?”,
tanya Nadya kemudian.
“Lihat ke bawah.”
Ketika Nadya menengok ke bawah, ia menemukan sesuatu yang tak ia
sangka. Aryo tengah berdiri dengan memegang lembaran kertas. Tangan kanannya
juga memegang handphone miliknya.
Nadya pun membaca tulisan yang tertera di sana.
Hai, Nadya?
Aryo kemudian menarik lembar pertama itu yang lalu ia selipakan di
bagian paling belakang. Aryo terus seperti itu, dan Nadya tetap membaca setiap
kata yang tertuliskan di kertas itu.
Aku di sini mau bilang makasih
Makasih udah jadi sahabat yang baik
Makasih atas ide-idemu
Makasih atas kesabaranmu
Makasih untuk semuanya :D
Senyum terukir di bibir Nadya. Nadya berfikir jika Aryo sudah
berhasil mengungkapkan isi hatinya. Ia senang. Tapi sebagian hatinya runtuh.
Dan...
Makasih karna udah mengisi hati dan hariku...
Mata Nadya terbelalak maksimal. Ia tak mengerti dan tak yakin
dengan kalimat yang baru saja ia baca. Kembali ia membaca kalimat tersebut.
Apakah ia bisa berharap bahwa itu kenyataan?
Aku jujur nadya.
Kau ada di hatiku...
Tanpa aba-aba, Nadya langsung berlari menuju tangga. Menuruni
undakkan yang tersusun rapi itu dengan gerakan cepat. Takut Aryo cepat pergi.
Di tepi lapangan ini, Nadya melihat Aryo yang berdiri di tengah lapangan dengan
kedua tangan masih memegang lembaran kertas dan senyum yang merekah. Kali ini,
kertas yang paling depan sudah berganti kalimat.
Kenapa kamu nangis?
Setelah membaca itu, Nadya langsung berlari menuju tempat dimana
Aryo berdiri. Dipukulnya lengan kanan Aryo dengan keras yang membuat Aryo
mengerang kesakitan.
“Heh, cengeng. Apa-apaan, sih?” tanya Aryo sambil mengelus lengan
kanannya.
“Loe itu yang apa-apaan? Bercandanya itu nggak lucu! Kalo mau
nembak Nana, ya udah ke sana. Kenapa loe malah ke sini, hah?”
Dengan diam Aryo meraih ranselnya. Dimasukkan lembaran kertas itu
ke dalam ransel olehnya. Ketika tangan kanan Aryo keluar dari ransel itu, ia
membawa sebuah kotak. Aryo membuka kotak itu an mengambil isinya. Ditariknya
tangan kiri Nadya lalu tangan tersebut dimasukkan kedalam lubang perak yang
manis itu.
Nadya menutup mulutnya saat mengetahui apa yang Aryo kenakan pada
tangan kirinya. Gelang itu! Kembali tanpa perintah, Nadya memeluk Aryo erat.
***
Matahari senja bersinar terang di
ufuk barat. Mempersilahkan kepada gelapnya malam untuk menampakkan kerlipan
bintang yang berjuta-juta.
“Gue boleh tanya sesuatu?” tanya
Nadya tanpa mengalihkan fokus matanya dari sinar matahari tenggelam.
“Tanya apaan emang?”
“Ehm..” Nadya tertunduk. Ia ragu
untuk menanyakan hal ini. Tapi jika ia tak bertanya, ia takkan tahu apa
jawabannya. “Loe bener kemarin emang nggak nembak Nana? Emang loe nggak suka
sama dia?”
Mendengar itu Aryo mengerutkan
keningnya. “Emang loe mau gue nembak dia?”
“Bukan gitu,” dengan cepat ia mengalihkan fokus matanya pada sosok
yang kini duduk di kanannya. “Maksud gue itu—“
“Iya, gue ngerti maksud loe. “ sela Aryo. “Loe mau tau jawabannya?”
kembali pandangan Aryo berpindah pada Nadya. Ia menatap Nadya dengan dalam,
membuat Nadya hanya mampu menganggukkan kepalanya.
“Gue sebenernya bohong kalo gue suka sama Nana. Asal loe tahu aja,
dia itu udah punya cowok. Jadi loe tau kan alasan gue nggak nembak dia? Karna gue
emang nggak suka sama dia,” Aryo tidak menyelesaikan penjelasannya. Ia malah kembali
menatap mata bulat Nadya. Perlahan tangan kiri mengelus kepala Nadya. “Karna
cewek yang gue suka, yang gue sayangi itu loe, Nad.” Kembali Nadya terjebak
dalam bening mata di hadapannnya ini.
“Nih, buat kamu,” kata Aryo mengalihkan perhatian. Ia memberikan sebuah
kertas yang terlipat rapi pada Nadya. nadya menerima dengan pandangan heran.
“Buka aja.” Nadya membuka lipatan itu perlahan. Ketika ia tahu apa isinya,
matanya terbelalak.
“Puisi?”
“Iya. Puisi. Dari penggemarku, kan?
Atau, aku bisa manggil dia Nadya.”
“Dari mana kamu..?”
“Heh, cengeng. Jelas aku tahu, lah.
Orang ada tandanya kalo yang buat itu kamu.” Ucap Aryo sambil menunjukkan tanda
bintang di kertas itu.
Nadya hanya tersenyum menampakkan
giginya yang rapi. Malu sendiri pada cowok yang duduk di kanannya.
“Dasar, sembrono!” ucap Aryo sambil
mengacak-acak rambut Nadya.
-END-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar