Selasa, 16 April 2013

Puisi Untuk Dia - Part 2

“Ada surat buat loe, nih.” Nadya menyodorkan amplop pink dengan tangan kanannya pada Aryo yang sedang tiduran di rerumputan taman yang ada di perumahannya.
            Aryo membuka matanya setelah mendengar suara itu. Dilihatnya Nadya berdiri di kanannya dengan senyum yang merekah. Ekspresi kebingungan jelas terlihat di wajah Aryo. Ia pun bangkit dari tempat ia berbaring dan menerima surat yang dibawakan oleh Nadya.
            “Dari loe, ya? Tapi kok pake surat, sih? Pink lagi. Surat cinta, ya?” Tanya Aryo sambil memperhatikan surat yang ia pegang setelah Nadya duduk di sampingnya.
“Yee.. Sok tahu, kamu. Tadi ada yang titip.”
            “Siapa?”
“Rahasia..,” ucap Nadya sambil menyunggingkan senyuman manis. Aryo hanya mendengus pelan dan membuka amplop surat tersebut. “Eits, jangan dibuka di sini.”
“Kenapa?”
“Ya, itu kan privasi. Nggak lucu kan, kalo gue liat surat orang lain?”
“Apa kata loe, deh.” Aryo pun memasukkan amplop tersebut ke dalam saku celana pendek hitamnya. “Gimana Bagas, ya, Nad?” tanya Aryo kemudian. Mendengar kalimat itu, raut wajah Nadya berubah sedih. Sudah 3 bulan Bagas pergi untuk selamanya dari hidup mereka. Ia adalah sahabat yang sangat ceria. Selalu membuat keduanya tertawa.
“Nggak tahu, Yo.” ucap Nadya sedih sambil menundukkan kepalanya. “Yaah, jadi sedih, kan?” tambah Nadya sambil memukul lengan kanan Aryo dengan perlahan.
“Yaah, malah mewek nih anak. Udahlah, dia pergi juga nggak jauh-jauh banget. Kita juga masih bisa menghubungi dia,” Ucap Aryo setelah melihat Nadya menyeka air matanya dengan kedua tangannya “Tapi aku kok disuruh njagain cewek cengeng kayak loe... Adududuh. Kok nyubit, sih?”
“Abis..”
“Kenapa? Nggak terima kalo gue bilang kayak tadi? Iya? Kenapa marah, itu kan kenyataan. Dari kecil aja kamu suka nangis kalau gue sama Bima ninggalin kamu bentar. Dasar cengeng, penakut, sukanya mukul sama nyu.. ADOOH!”
“Bisa nggak, sih, Yo, kamu nggak ngejek gue sekaliiii aja?” tanya Nadya dengan tampang memelas.
“Nggak. Nggak bisa!” kalimat itu keluar dengan diiringi senyuman jahil yang terlukis jelas di bibir Aryo, yang kemudian senyuman itu berubah menjadi tawa karena Nadya memasang tampang bete.
***
Cinta
Apakah kau tahu Cinta, apakah arti cinta?
Apakah kau mengerti Cinta, bagaimana ada cinta?
Cinta, apakah rasa di hati ini cinta?
      Cinta
      Menatapmu seperti menemui fatamorgana di gurun pasir
      Melihat senyummu bagai satu bintang di malam kelamku
      Mendengar tawamu bak lagu merdu yang indahkan hariku
Kau tahu, Cinta?
Raga ini terpaku melihatmu
Lidah ini kelu tuk berucap sepatah kata padamu
Lutut ini kaku tuk berdiri di hadapmu

            Aryo terpaku pada secarik kertas yang ia pegang. Kertas putih yang berisi berbaris-baris kalimat yang diketik. Bukan tulisan tangan. Ditambah lagi dengan gambar bintang yang dibuat dengan pulpen hijau. Senyuman semakin tak lepas dari bibir Aryo. Sudah sedari sore hingga tengah malam, ia membaca barisan kalimat-kalimat itu.
***
“Nadya!” seseorang menyerukan nama Nadya dengan keras. Sang pemilik nama pun menengokkan kepalanya ke sumber suara. Terlihat Aryo tengah duduk di atas Vixion hitamnya. Bukan hanya Nadya yang menengokkan kepalanya, tetapi hampir semua orang yang ada di halaman sekolah. Memang tidak ramai dan hanya terdiri dari teman-teman sekelas Nadya. Termasuk Wisnu, yang sekarang tengah menatap Nadya.
“Cie, Nadya. Siapa tuh?” tanya Mona, salah satu teman sekelas Nadya, mewakili beberapa temannya yang lain.
“Bukan siapa-siapa. Cuma temen.” Jawab Nadya salah tingkah.
“Temen kok sumringah gitu, sih, waktu ngeliatin dia?” teman yang lain menimpali, membuat Nadya gerah. Apalagi Wisnu tengah menatapnya dengan tajam. Menurut Wisnu, dugaannya selama ini benar adanya, kalau mereka berdua memiliki hubungan yang lebih dari sekedar sahabat dari masa kanak-kanak. Keduanya sangat memperlihatkan itu.
“Temen. Nggak percayaan amat, sih? Duluan, ya?” tanpa menunggu jawaban dari teman-temannya, Nadya sudah berlalu menuju tempat Aryo berada. “Loe kok manggil kenapa teriak, sih? Kenapa nggak ngidupin klakson, gitu?” tanya Nadya kemudian setelah duduk manis di atas motor Arya yang kemudian motor itu berlalu.
“Yee. Yang dari tadi nggak ngidupin klaskson siapa, neng? Udah berkali-kali gue mejet-mejet nih tombol, loenya tetep aja nggak denger! Bukannya bilang makasih udah dapet tumpangan pulang-pergi gratis, malah dapet omelan.” Jawab Aryo dengan juteknya.
“Ya maaf, Yo.”
“Enak banget, ya, bilang maaf??”
“Terus loe maunya apaan? Kayak anak kecil aja, deh.” tanya itu dijawab dengan berhentinya motor yang tengah berjalan itu di tepi jalan. “Kenapa, Yo?” tanya Nadya setelah turun dari motor Aryo.
Aryo melepas helmnya, menaruhnya di kaca spion, kemudian ia turun dari motornya. Berdiri tepat di depan Nadya yang menatap Aryo dengan bingung. Aryo pun diam sebentar, seperti tengah memastikan sesuatu. “Bantuin gue, ya?”
“Minta bantuan masalah apa?” tanya Nadya heran. Nadya merasa heran melihat Aryo yang tiba-tiba meminta bantuannya, karena setahunya Aryo selama ini sulit untuk meminta bantuan kepada Nadya.
“Gue kan lagi suka sama cewek...,” kalimat pengantar itu membekukan Nadya di tempatnya. Melalui kata pengantar itu, Nadya sudah mengetahui arah pembicaraan ini “Dan deket-deket ini dia mau ulang tahun. Gue sudah ada niatan buat nembak dia waktu dia ultah,” Nadya tak sanggup untuk mendengar kelanjutannya. Dadanya semakin lama semakin sesak. Gadis itu sebentar lagi ulang tahun. Dirinya juga sebentar lagi ulang tahun. apakah Aryo tidak mengingatnya? “Loe mau, kan, Nad, bantuin loe nyari sesuatu buat dia? Loe tahu sendiri, kan, kalo gue buta masalah cewek?” Nadya terdiam. Tertunduk dan terdiam. Sakit ini baru kali ini ia rasakan. Dulu ia tak secemburu ini saat bersama Wisnu. Ini sangat sakit untuknya.
Sebagian hatinya membujuk Nadya untuk membantu Aryo. Aryo sudah membantu Nadya sedari dulu. Sejak kecil! Aryo selalu ada saat Nadya butuh. Selalu membuatnya tertawa saat ia menitikan air mata. Ini saatnya membantu Aryo.
“Makasih, Nad,” Kalimat itu tercurah setelah Nadya menganggukan kepalanya dengan perlahan. Tanpa sadar, Aryo merengkuh Nadya ke dalam pelukannya. Aryo yang lebih tinggi dari Nadya, membuat kepala Nadya berada di dada Aryo. Pelukan itu sangat hangat bagi Nadya. Saat Nadya ingin membalas pelukan Aryo, Aryo terlebih dahulu melepaskan pelukkannya. “Pulang, yuk?” ajak Aryo kemudian. Nadya hanya dapat menjawab dengan anggukan kepala dan senyuman tipis yang terukir di bibirnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar