Selasa, 16 April 2013

Cerbung : Apakah Ini - Part 3

Kantin SMA Bangsa hampir dipenuhi oleh seluruh warga sekolah. Suara orang berbincang terdengar saliing bersautan. Pada istirahat pertama hari ini Dion dan Nadia tengah menyantap makan meraka ditengah-tengah tour dadakan mengelilingi sekolah yang cukup luas ini.
"Gue nggak nyangka, ya, bisa ketemu loe lagi. Tiga hari berturut-turut, kebetulan pula." kalimat yang diutarakan Nadia mengalihkan perhatian Dion dari bakso yang sedang ia makan.
"Iya juga ya? Gue baru sadar  kalau kita kayak begitu."
Pagi ini memang pertemuan mereka yang ketiga. Kemarin Dion dan Nadia bertemu lagi di toko buku. Saat itu toko buku sedang ramai. Dion tanpa sengaja menyenggol bahu kanan Nadia yang tengah membawa buku yang lumayan banyak. Tak ayal, sebagian buku Nadia terjatuh dari genggamannya. Dion langsung membungkuk dan membantu Nadia merapikan bukunya yang tersebar kemana-mana sembari berkali-kali mengucapkan kata maaf. Ketika Dion menyerahkan buku yang diambilnya dan menatap orang yang ia tabrak, ia langsung terkaget-kaget. Begitu pula dengan Nadia.
"Oh ya, istirahat ke dua loe mau tour lagi apa gimana?"
"Nggak aja deh, Yon. Gue mau kenalan sama anak-anak dulu, kan baru beberapa anak yang gue kenal. Thanks ya" sebuah senyuman tak lupa diberikan oleh Nadia.
Dion terpaku. Ia kemudian berusaha mengendalikan dirinya. "Nggak masalah."
 
***

"Cie yang udah dapet sekolah baru. Gimana sekolah baru loe?" tanya itu terdengar oleh Nadia yang tengah mengerjakan tugas rumah pertamanya sebagai siswa SMA Bangsa. Nadia pun mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara.
"Apaan sih loe? Ganggu gue aja, deh. Pergi sana!" Nadia langsung mengusir secara verbal sosok yang kini tengah duduk di tepi ranjang miliknya.
"Astaga, gitu banget sih loe sama sepupu. Gue sempet-sempetin ke sini dari rumah gue yang ada di ujung sana buat nanyain gimana sekolah sepupu gue yang cantik ini--"
"Lebay loe! Kalo nggak ada hal penting, mending loe keluar aja deh. PR gue numpuk!" Nadia bangkit dari kursi belajarnya lalu mendorong cowok itu keluar dari kamarnya.
"Nad, loe masih marah karna gue nggak nemenin loe di sekolah tadi?" tanya cowok itu sebelum Nadia menutup pintu kamarnya.
"Nggak. Ngapin juga gue marah sama loe gara-gara hal begituan."
 "Terus kenapa loe marah-marah gitu?"
"Gue kan tadi udah bilang sama loe Ardan Wijaya yang cakep, yang pinter. Gue lagi bikin PR. Jangan ganggu gue! Oke?" dengan gerakan cepat Nadia menutup pntu kamarnya dan berjalan menghampiri meja belajar miliknya yang terletak di dekat tempat tidurnya.
"Yaudah, gue tunggu dibawah. Ada yang perlu gue omongin sama loe" terdengar suara Ardan dari balik pintu. "Oh ya, thanks karna loe udah pilang gue cakep dan pinter. Akhirnya loe sadar juga."
"ARDAAAAN!!"

"Jadi apa yang mau loe omongin sama gue?" tanya Nadia pada Ardan yang asyik menonton tv di ruang keluarga. Nada dongkol masih terdengar dari suaranya.
"Oke, gue minta loe jangan deket-deket sama yang namanya Dion."
Mendengar itu, Nadia merasa tak suka. Matanya lansung membulat. Ia dalam hati bertanya-tanya, kenapa dia harus menghindari cowok bernama Dion itu.
"Karena dia itu playboy paling ngeselin se-Indonesia." Ardan langsung menjelaskan alasannya. Seakan bisa membaca pikiran Nadia. Mendengar alasan itu, Nadia hanya ternganga.
"Jadi pada intinya gue nggak boleh deket-deket sama dia karna dia itu playboy?" Ardan mengangguk pasti. Wajahnya serius. Tetapi malah seperti anak SD yang lagi ngibulin temennya.
"Loe kok lebay banget, sih, hari ini? Kayak anak kecil loe!" Nadia mengucapkan kaimat tersebut di sela tawanya. ia tertawa karena mimik lucu yang dibuat oleh sepupunya ini.
"Nah, gitu dong. Ketawa.Kan gue enak liatnya."
"Tapi alpa itu bener? Apa Dion itu playboy?" kali ini tawa sudah lenyap dari Nadia. Ia bertanya dengan nada serius, sedang yang ditanya hanya menggedikkan bahu.
"Gue nggak ngerti"
"Kayaknya nggak deh. Ge liat-liat, dia baik-baik aja. Nggak keliatan kayak playboy, tuh. Dia baik sama gue. Mau nganterin gue keliling sekolah."
"Nggak tau juga. Itu rumor yang gue denger, sih. Tapi sebaiknya loe hati-hati aja kalo nggak mau sakit hati. Lagi."
Pernyataan Ardan menyentakkan Nadia. Pandangannya yang sedari tadi menghadap televisi, kini menjadi ke arah Ardan yang berada di kirinya. Dalam hati ia mengulang kalimat Ardan. Tapi sebaiknya loe hati-hati aja kalau nggak mau sakit hati. Lagi.

Bersambung

Oke, sorry kalau kalimat-kalimatnya agak nggak jelas atau mungkin emang nggak jelas. Semoga kalian suka :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar